Balutan Binar Mutiara

Dalam Balutan Binar Mutiara: fenomena maraknya politik pencitraan di Indonesia
 
​Kehidupan Postmodern adalah produk baru dari politik kapitalisme, di mana pada kodisi ini semua lapisan masyarakat “dipaksa” tertuju pada suatu sosok fenomenal hasil bentukan ulung yang disebut pencitraan. Sosok yang mampu “menyihir” masyarakat  agar mau menggantungkan berbagai persoalan dan harapan suatu negara untuk diselesaikan olehnya, hal ini lah yang sering disebut dengan politik pencitraan yang muncul sebagai gagasan yang dihasilkan dari era reformasi pada fase kehidupan politik Indonesia.
​Peran pencitraan di panggung politik nasional akhir-akhir ini pun terasa semakin signifikan, berbagai kontestasi politik pada pemilihan kepala daerah atau pimpinan suatu institusi tentunya tak lepas dari pencitraan yang berpengaruh besar bagi  elektabilitas mereka.
​Dewasa ini politik pencitraan diri ini selalu dijunjung oleh media massa, baik cetak maupun elektronik. Di mana seorang tokoh utama ditampilkan dalam “kemasan” yang sesuai dengan apa yang diinginkan oleh masyarakat pada umumnya sehingga mampu memberikan image positif yang menumbuhkan simpati publik terhadap sosok yang dicitrakan. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat masa kini telah semakin detail dalam mengamati perilaku orang-orang yang disebut-sebut sebagai calon pemimpin masa depan, terutama mereka yang diperbincangkan dalam kajian hangat media massa.
​Tak hanya individu, politik pencitraan juga sangat berdampak besar terhadap institusi atau lembaga, oleh karena itu kemampuan dalam pengelolaan pencitraan harus selalu dipupuk dengan baik agar mampu menarik simpati masyarakat. Pada faktanya, pengelolaan pencitraan   bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Orang-orang yang sadar akan akan memanfaatkan cara ini untuk menyampaikan kebaikan, namun tentu saja pencitraan juga memiliki sisi dan dampak negatif, terlebih jika dilakukan secara berlebihan hanya untuk menampilkan “topeng” citra positif di mata masyarakat. Alih-alih mendapat respon positif, yang terjadi justru sebaliknya; menebarkan kesan negatif akibat overdosis pencitraan yang dilakukan. Di titik inilah masyarakat dituntut untuk kritis dan tidak terlena dengan kemasan yang disajikan di panggung perpolitikan Indonesia saat ini.
​Dalam bahasa agama politik pencitraan ini disebut juga dengan riya’, meskipun sebenarnya disadari atau tidak, tanpa dibuat-buat pun sebuah citra akan dengan sendirinya terbentuk bergantung pada pola perilaku yang ditunjukkan secara eksplisit di hadapan publik. Ironisnya, kebanyakan orang yang memiliki kepentingan tertentu justru lebih mengutamakan citra dibandingkan dengan kualitas diri yang real, bahkan yang lebih buruk lagi adalah jika citra sudah dijadikan tameng untuk menutupi keburukan dan kebaikan hanya menjadi citra “tipuan” semata.
​Seharusnya orang-orang memiliki keyakinan dan pemikiran yang lebih terbuka terkait dengan pencitraan ini. Sederhana saja, jika memang ingin dicitrakan sebagai pribadi atau institusi yang baik di mata masyarakat lakukanlah segala sesuatunya dengan baik dan dengan usaha terbaik pula sesuai dengan motivasi dan kemampuan diri yang ada. Tak perlu lah melakukan hal-hal yang berlebihan hanya untuk mendapat pengakuan atas pencitraan yang baik namun tak seperti adanya.
​ Ibaratnya, sebutir mutiara yang berkilau indah meskipun tertutup jutaan pasir, walau bagaimanapun keindahaannya tetap akan berbinar ketika surya menerpanya, dan semua orang tetap akan mengakuinya sebagai mutiara. Lain halnya dengan sebongkah tanah yang suram dan ingin mendapatkan kilauan serupa, meskipun dilapisi dengan balutan mutiara sekalipun,  ketika hujan menerpa lantahlah kembali menjadi tanah yang suram. Artinya sesuatu yang baik akan selalu menjadi baik bagaimanapun keadaannya, dan sesuatu yang buruk sekeras apapun disimpan di balik kebaikan palsu pada akhirnya akan tetap terungkap sebagai keburukan bagaimanapun cara menutupinya.

Was published at M2 ( Hima Humas’s House Journal)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s