Filsafat Komunikasi; Paradigma Transmisi sebagai “normal science”

“Rezim Kimunikasi sebagai transmisi adalah paradigman ilmiah berintikan filsafat pengetahuan John Locke, yang kemudian mendapat artikulasi dan elaborasi dalam teori-teori Claude Shannon, Warren Weaver, dan Norbert Wiener.”

Awal mula berkembangnya ilmu komunikasi pada dasarnya tidak terlepas dari para pemikir bidang ilmu tersebut beserta paradigm yang telah dibangun.  Terdapat sebuah paradigma  yang  amat  berpengaruh  dan dominan  dalam  ilmu  komunikasi yang dikenal dengan  sebutan paradigma   transmisi atau sering  disebut juga sebagai rezim transmisi. Rezim komunikasi  sebagai transmisi berporoskan pada filsafat pengetahuan John Locke, yang kemudian mendapat artikulasi dan elaborasi dalam teori-teori Claude Shannon, Warren Weaver, dan Norbert Wiener. 

John Locke adalah filsuf beraliran empirisme yang mana pandangan empirisme tersebut menyatakan bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman. Pada uraian filosofisnya, John Locke  berbicara mengenai tabula rasa, yaitu anggapan bahwa manusia yang dilahirkan diumpamakan sebagai papan tulis yang  belum ada tulisannya. Jadi, proses komunikasi melibatkan  kesediaan kita untuk membolehkan orang lain untuk menuliskan sesuatu di atas papan tulis  tersebut. Aktivitas  mengisi  dan  terisikannya  tulisan  tersebut  berasal  dari  pengalaman.

Persepsi dimulai dengan sebuah objek didalam dunia, misalnya pohon. Kita bisa mengetahui itu pohon, ketika terdapat cahaya sinyal yang jatuh kepohon kemudian ditangkap oleh mata kemudian masuk kedalam pikiran dan menggunakan material ini untuk merepresentasikan pohon. Pengalaman sederhana tentang pohon oleh pikiran adalah sebuah “ide sederhana”, yang secara langsung dirasakan tidak dapat didefinisikan. Ini adalah pengalaman yang dihasilkan sebelum refleksi, misalnya rasa rabaan bulu halus kucing, rasa manis apel, warna matahari yang bersinar. Ide sederhana ini merupakan data rasa murni yang mencerminkan sifat benda yang menyebabkan pengalaman yang bisa di indra. Semua ide sederhana tersebut asosial dan alinguistik. Ide sederhana ini bukan merupakan produk dari konvensi, budaya dan kosakata.

Locke menyatakan ada dua macam pengalaman yang terjadi pada manusia, yakni pengalaman lahiriah (sense atau eksternal sensation) dan pengalaman batiniah (internal sense atau reflection). Pengalaman lahiriah adalah pengalaman yang menangkap aktivitas indrawi yaitu segala aktivitas material yang berhubungan dengan panca indra manusia. Kemudian pengalaman batiniah terjadi ketika manusia memiliki kesadaran terhadap aktivitasnya sendiri dengan cara ‘mengingat’, ‘menghendaki’, ‘meyakini’, dan sebagainya. Kedua bentuk pengalaman manusia inilah yang akan membentuk pengetahuan melalui proses selanjutnya.

Menurut John Locke, komunikasi dapat dikatakan ideal jika ide yang muncul dalam  pikiran penerima (receiver) memiliki kesamaan pikiran dengan ide atau pemikiran yang di-encoding oleh pengirim (sender). Menurut Radford, Lock dengan jelas membedakan antara “kebenaran” dan “pemahaman” kita mengenai kebenaran. Kata-kata tidak membuat kebenaran lebih mudah cerna oleh pemahaman kita, sehingga kata-kata yang menimbulkan ketidakjelasan dan kekacauan tersebut  menjadi penghalang sebelum sampai pada mata kita. Kata-kata tidak mengungkapkan kebenaran pada pemahaman kita, melainkan kata-kata tersebut bertindak sebagai sebuah kesukaran yang mendasar Sementara itu, proses komunikasi tidak selalu berjalan sempurna sehingga hal inilah yang melatarbelakangi lahirnya ilmu komunikasi.

Rezim transmisi (istilah Gary Radford) yang mengacu pada ajaran John Locke terus berupaya dalam mengembangkan artikulasinya. Rezim ini diawali dengan teori komunikasi pada  periode pertama yang sebagian besar berasal dari Claude Shannon (ahli telekomunikasi) dan Warren Weaver  (ahli  matematika). Keduanya  menulis risalah  yang  berjudul  Mathematical  Theory  of Communication  Model.

Paradigma penelitian yang digunakan oleh model transmisi ini bergerak dalam mazhab  positivis yang meyakini bahwa pengetahuan diperoleh dari hasil observasi, dengan menguji hubungan positif dari sebuah hipotesa. Teori Shannon menerapkan satu aspek yang spesifik dari komunikasi, yaitu aspek transmisi. Model transmisi ini dikembangkan dari realitas dalam bidang  ilmu fisika, teknik, dan matematika (Littlejohn 2002, 41). Teori ini tidak mempedulikan domain  makna yang abigu, subjektif, dan rawan terhadap kesalahan. Shannon ingin menjelaskan dalam  istilah matematika bagaimana sebuah proses di mana suatu pesan (terlepas dari isi pesan  maupun maknanya) dapat berpindah dari suatu sumber menuju suatu tujuan.

Terdapat lima tahap model sistem komunikasi menurut Shannon adalah sebagai berikut: 1) Information Source (sumber informasi), yang memproduksi sebuah pesan atau serangkaian pesan untuk dikomunikasikan kepada penerima terakhir. 2) Transmitter, yang mengoperasikan pesan dalam beberapa cara untuk menghasilkan sinyal yang tepat untuk dikirimkan melalui suatu channel (saluran). 3) Channel, yaitu medium yang digunakan untuk mengantarkan sinyal dari  transmitter kepada receiver. 4) Receiver, melakukan tindakan sebaliknya dari apa yang dilakukan transmitter, merekonstruksi pesan dari sinyal. 5) Destination, adalah seseorang (atau sesuatu) kepada siapa suatu pesan ditujukan.

Teori Shannon & Weaver membahas seputar proses komunikasi yang linear di mana  Sender meng-encoding ide menjadi pesan (message), lalu ditransmisikan melalui saluran (channel) agar dapat diterima  oleh  penerima (receiver) untuk di-decoding kembali menjadi  ide yang dapat dimaknai. Setelah itu akan muncul efek sebagai implikasi dari proses tersebut.  Model ini kemudian dikenal dengan model S-M-C-R atau Sender-Message-Channel-Receiver.

Proses yang terjadi dalam model komunikasi transmisi ini mengikuti model markov (markov  process). Proses markov adalah proses dimana rangkaian peristiwa terjadi setelah  kejadian lain dalam rangkaian peristiwa. Pola linear-transmission inilah yang terus-menerus dipakai dan dijadikan landasan ilmiah pada dunia akademis ilmu komunikasi kala itu. Sehingga  menjadi rezim tersendiri yang mengkonstitusi cara cendekiawan harus memahami proses komunikasi.

Sistem komunikasi Shannon-Weaver dapat menyerupai model komunikasi dari Locke. Namun, Shannon tidak mempertimbangkan maupun mempedulikan aspek psikologis dari sender  dan receiver. Teori Shannon adalah teori matematis, dan untuk membangun teori ini “hal pertama yang harus dilakukan adalah merepresentasikan berbagai elemen yang dianggap sebagai entitas matematis yang diidealisasikan secara tepat dari aspek fisik masing-masing elemen tersebut” (Shannon, Weaver 1949, 34 dalam Garry Radford). Sementara  itu  Norbert  Wiener (Ilmuan  dari Massachusetts Institute  of  Technology/ MIT)  hadir  dengan  gagasan  sibernetika  (cybernetics) yang  terinspirasi  dari  model matematika Claude Shanon dan  Warran Weaver.  Wiener hadir dengan konsep mereka tentang feedback-nya, mencetuskan tradisi  sibernetik  ini  dan mengantarkan kita pada pemahaman komunikasi sebagai penghubung atas bagian-bagian  yang terpisah dalam suatu sistem mekanistik, termasuk untuk komunikasi sosial  (Griffin 2012,  39). Pendekatan model transmisi ini dipakai untuk memahami komunikasi sehari-hari yang dilakukan dengan berbagai cara, seperti menelepon, email, dan sebagainya, dan untuk  komunikasi dalam dunia saintifik.

Littlejohn menjelaskan bahwa sibernetika yang dipopulerkan oleh Norbert Wiener pada tahun 1950, sebagai bidang keilmuan merupakan cabang dari teori sistem (system theory) yang terfokus pada umpan balik (feedback) dan proses kontrol serta menekankan komunikasi sebagai proses yang sirkular. Tradisi ini juga berkaitan dengan information theory yang fokus pada transmisi sinyal dari bagian satu sistem ke seluruh jaringan (Littlejohn 2011, 51).

Sistem itu sendiri memiliki beberapa ciri, yaitu: 1) Keseluruhan (wholeness) dan kesalingtergantungan (interdependence) hal ini berbeda dengan physical summativity, berkumpul tapi tidak saling tergantung; 2) Hirerchy, Sebuah sistem merupakan bagian dari sistem yang  lebih besar, terdapat suprasistem dan subsistem di dalamnya. 3) Self-regulation and control.  Sistem diatur dan dikontrol untuk mencapai tujuan dari sistem itu sendiri; 4) Interchange with environment, sistem menerima input dari lingkungan dan memberikan output bagi lingkungan.  5) Balance, keseimbangan merujuk kepada homeostatis, selfmaintenances. Sistem harus membuat penyesuaian agar tetap berada pada alurnya.  6) Perubahan dan adaptabilitas (change  and adaptability). Perubahan sistem dalam istilah teknik disebut dengan morphogenesis. Sistem  harus berubah mengikuti dinamika lingkungan. Namun di sisil ain, sistem harus tetap seimbang. 7) Equifinality, pencapaian tujuan sistem dari berbagai  cara dari starting point yang berbeda.  Sistem yang  mampu beradaptasi  bisa  mencapai tujuan sistem  dalam kondisi lingkungan yang berbeda-beda (Littlejohn 2002, 36-42).

Sistem adalah dynamic whole yang saling terkait dalam pola interaksi yang kompleks. Perubahan yang terjadi pada satu hal akan memengaruhi perubahan lainnya. Medium terjadinya  hal tersebut adalah informasi yang akan dibahas dan dijawab dengan menggunakan teori  informasi. Pengembangan lebih lanjut dari model komunikasi ini dikembangkan oleh Harold D.  Laswell. Laswell menyarankan sebuah cara yang tepat untuk menjelaskan tindakan komunikasi adalahdengan menjawab pertanyaan-pertanyaan “Who-Says What-In Which Channel-To Whom -With What Effects”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s