Filsafat Komunikasi;Hermeneutika Diskursi Komunikasi (Sebuah Perbincangan Murni)

Selama ini kita telah terbiasa mendefinisikan atau menafsirkan komunikasi dalam perspektif komunikasi sebagai transmisi. Kosakata semacam ‘sender’, ‘receiver’, ‘encode’, ‘decode’, dan ‘transmision’ mencerminkan hal tersebut. Padahal, komunikasi itu sendiri juga dapat dipahami melalui perspektif yang berbeda. Misalkan dapat kita lihat dalam kosakata semacam ‘interpretasi’, ‘pemahaman’, maupun ‘perbincangan’. Komunikasi tidak lagi dilihat sebagai transmisi ide dari benak seseorang kepada orang yang lain, melainkan bahwa komunikasi merupakan proses penciptaan makna bersama di dalam suatu alur perbincangan. Atau dalam bahasa Radford (2005: 154) disebut “the mutual creation of meaning in the flow of a living genuine conversation.” Perspektif ini disebut sebagai hermeneutika.

Kata “hermeneutika” berasal dari mitos tentang Hermes. Hermes yang merupakan utusan Dewa dalam mitologi Yunani, bertugas menyampaikan pesan (atau wahyu) dari Dewa. Untuk itu, Hermes harus mampu berbicara dalam bahasa Dewa di satu sisi dan di sisi yang lainnya juga harus mampu berbahasa sebagaimana manusia biasa yang mana pesan atau wahyu tersebut ditujukan. Hermes memiliki dua tugas utama. Pertama, dia harus mengerti dan menerjemahkan bagi dirinya sendiri apa-apa yang Dewa inginkan melalui pesan atau wahyu-Nya. Kedua, dia juga harus menerjemahkan dan mengartikulasikan pesan atau wahyu tersebut kepada manusia awam.

Sekilas, gambaran di atas mirip dengan komunikasi dalam paradigma transmisi. Hermes membawa pesan dari Dewa (sender) untuk disampaikan kepada manusia (the receiver). Akan tetapi fokus utama hermeneutika tidaklah berkaitan dengan upaya menyamakan ide di dalam benak Dewa dengan ide dalam benak manusia. Hermeneutika lebih memusatkan perhatian kepada bagaimana peran Hermes dan kemampuannya dalam memahami sebuah wacana di satu wilayah (Dewa) dan mengartikulasikan pemahaman tersebut ke dalam wilayah yang lainnya yang berbeda (manusia). Hermes memerlukan usaha untuk mampu membaca dan memahai teks-teks yang diproduksi di suatu waktu dan tempat tertentu dan kemudian mengartikulasikan pemaknaannya di dalam ruang dan waktu yang sama sekali berbeda.

Hermeneutika pada mulanya banyak dipakai untuk menafsirkan teks-teks ayat suci, semacam injil. Permasalahan yang dihadapi oleh para penginjil tersebut sama dengan yang dihadapi oleh Hermes. Probematika yang muncul adalah bagaimana mengkomunikasikan pesan antara Dewa atau tuhan dengan manusia awam. Bagaimana para penginjil tersebut mampu secara akurat dan tepat menginterpreatsikan pesan tuhan secara sebagaimana adanya, seperti yang tertuang dalam injil, dan kemudian mengekspresikan pemaknaannya ke dalam bahasa di mana masyarakat tersebut berada, yang berada dalam ruang dan waktu yang berbeda-beda, dengan konteks sosial budaya yang berbeda-beda pula.

Di satu sisi pesan atau wahyu dari tuhan bersifat tetap, konstan, dan universal, akan tetapi di sisi yang lain konteks sosial dan budaya para umat yang membaca teks ayat-ayat suci tersebut berbeda-beda. Masing-masing masyarakat atau bahkan individu mungkin untuk menafsirkannya secara berbeda pula. Maka, tujuan utama hermeneutika adalah dalam persoalan semacam ini. Dalam bahasa Paul Riceour (1974: 4) disebutkan “the very work of interpretation reveals a profound intention, that of overcoming distance and cultural differences and of matching the reader to a text which has become foreign”. Jadi hermeneutika bertujuan untuk “menjembatani” antara teks dengan pembacanya. Fokusnya adalah mengurangi jarak antara pembaca dengan teks yang pada awalnya adalah asing dan tidak dipahami.

Menurut David Linge (1976) hermenutika berpusat pada permasalahan semacam ini, situasi di mana kita dihadapkan dengan situasi yang tidak dapat langsung kita pahami atau langsung mengerti akan maknanya. Untuk mencapai pemahaman tersebut diperlukan suatu usaha yang bernama “interpretive effort.” Radford (2005: 156) menganalogikan situasi ini dengan situasi ketika kita sedang melihat lukisan abstrak di Galeri Museum, membaca puisi atau karya sastra, atau membaca buku filsafat untuk pertama kalinya.

Dan ketika saat ini Anda sedang berusaha membaca teks ini untuk memahami tentang hermeneutika pada dasarnya Anda berada dalam situasi yang sama. Hermeneutika adalah sebuah kata atau konsep yang (pada awalnya) asing buat Anda, terutama jika Anda baru pertama kali belajar tentang filsafat. Hermeneutika adalah kata yang asing dan sangat mungkin sulit untuk Anda pahami. Maka Anda memerlukan ‘interpretive effort’ tadi.

Linge (1976: xii) kembali menyebutkan bahwa “in all these cases, the hermeneutical has to do with bridging the gap between the familiar world in which we stand and the strange meaning that resist assimilation into the horizon of our world”. Untuk memahami teks tentang hermeneutika pada hakikatnya kita mencoba menjembatani teks hermeneutika yang diciptakan pada satu ruang dan waktu tertentu, dengan konteks ruang dan waktu di mana kita berada, atau sesuai dengan ‘ensiklopedia’ yang kita miliki masing-masing.

Misalkan saja, ketika kita menulis ulasan tentang hermeneutika ini kita merujuk kepada tulisan Gary Radford tentang hermenutika dalam buku On the Philosophy of Communication. S Pertama-tama kita membaca teks tersebut, kemudian melakukan “interpretive effort” berusaha untuk memahami maksud dari teks tersebut. Kita tidak berupaya memahami teks hermeneutika tersebut dengan berusaha untuk mengerti isi kepala Gary Radford. Akan tetapi, kita akan mengartikan teks tersebut sesuai dengan konteks ruang dan waktu yang kita miliki saat ini, sesuai dengan pemahaman kita masing-masing tentang filsafat, latar belakang pendidikan, sosial budaya, buku-buku yang pernah kita baca, dan seterusnya. Kita semua mencoba membuat teks hermeneutika yang pada awalnya asing agar menjadi familiar dalam konteks ruang dan waktu yang kita miliki saat ini. Gary Radford sama sekali tidak punya kekuasaan untuk mendikte pemahamannya tentang hermeneutika kepada kita.

Begitu juga dengan situasi yang kita hadapi saat ini, ketika kita mempelajari teks tentang hermeneutika ini. Pada dasarnya kita tidak berusaha memahami tentang hermeneutika dengan berupaya melihat isi kepala kami (yang melakukan presentasi) atau mengerti apa yang kami pikirkan tentang hermeneutika. Tapi, kita berusaha membuat teks hermeneutika yang asing bagi kita ini, menjadi sesuatu yang tidak lagi asing. Kita membuat semacam jembatan antara teks hermeneutika yang kami tulis ini dengan konteks ruang dan waktu yang kita miliki.

Kami sama sekali tidak bisa mengontrol agar pemikiran kami tentang heremenutika agar sama dengan apa yang ada di dalam benak Anda. Maka pada prinsipnya Anda telah melakukan interpretive effort dalam memahami teks heremenutika ini. Jadi, fokus perhatian komunikasi dalam perspektif hermenutika adalah menjembatani teks yang asing tadi agar menjadi dapat kita pahami sesuai dengan bahasa atau dunia yang kita sudah mengerti sebelumnya.

Daftar Pustaka:

Gary Radford, On the Philosophy of Communication, Belmont: Wadsworth. 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s