Pluralitas paradigm dalam ilmu komunikasi

“Paradigma postmodern dalam ilmu komunikasi, semisal Umberto Eco, menegdepankan “tradisi historis’ sebagaimana diacu oleh pelbagai konsep, seperti “encyclopedia” (Eco), “episteme” (Foucault), “language game” (Wittgenstein), “final vocabulary” (Rorty), “narrative” (Lyotard), “habitus” (Bourdieu). Komunikasi intrakultural, baik yang berupa komunikasi intrapersonal maupun komunikasi massa”

 

Fenomena postmodern mencakup banyak dimensi yang ada pada masyakat kontemporer. Postmodern adalah suasana intelektual yang bersifat Ide atau ”isme” postmodernisme. Para ahli saling berdebat untuk mencari aspek-aspek apa saja yang termasuk dalam postmodernisme. Tetapi mereka telah mencapai kesepakatan pada satu butir: fenomena ini menandai berakhirnya sebuah cara pandang universalisme ilmu pengetahuan modern. Postmodem menolak penjelasan yang harmonis, universal, dan konsisten yang merupakan bagian identitas dasar yang membuat kokoh dan tegaknya modernisme. Kaum postmodernis mengkritik dan menggantikan semua itu dengan sikap menghargai kepada perbedaan dan penghormatan kepada yang khusus (partikular dan lokal). Lalu membuang yang universal. Postmodernisme menolak penekanan kepada penemuan ilmiah melalui metode sains. Metode ilmiah ini merupakan fondasi intelektual dari modernisme untuk menciptakan dunia yang seolah-olah lebih baik pada masa-masa awal masa pencerahan. Metode ilmiah telah mengantarkan modernisme dalam bentuk praktisnya berbagai teknologi.

Akumulasi dari ciri pemikiran yang mengacu pada postmodernisme yaitu pluralisme. Era pluralism sebenarnya sudah diketahui oleh banyak bangsa sejak dahulu kala, namun gambaran era pluralisme saat itu belum dipahami sepeti era sekarang, Hasil teknologi modern dalam bidang transportasi dan komunikasi menjadikan era pluralisme budaya dan agama telah semakin dihayati  dan dipahami oleh banyak orang dimanapun mereka berada. Adanya pluralitas budaya, agama, keluarga, ras, ekonomi, social, suku, pendidikan, ilmu pengetahuan, militer, bangsa, negara, dan politik merupakan sebuah realitas, begitu pun dalam bidang keilmuan dimana pluralitas paradigma dalam ilmu komunikasi yang salah satunya adalah paradigm postmodern.

Paradigma postmodern ini pada awalnya lahir dari kritik terhadap arsitektur modern, dan harus kita akui kata postmodern itu sendiri muncul sebagai bagian dari modernitas. Ketika postmodern mulai memasuki ranah filsafat, post dalam postmodern yang pengertiannya tidak dimaksudkan sebagai sebuah periode atau waktu, tetapi lebih merupakan sebuah konsep yang hendak melampaui segala hal modern. Konsep postmodernitas yang sering disingkat sebagai postmodern ini merupakan sebuah kritik atas realitas modernitas yang dianggap telah gagal dalam melanjutkan proyek pencerahannya.

Pada tahun 1960, istilah postmodernisme berhasil menembus benua Eropa sehingga banyak pemikir Eropa mulai tertarik pada pemikiran tersebut. Misalnya saja J.Francois Lyotard, adalah satu contoh pribadi yang telah terpikat dengan konsep tersebut. Ia berhasil menggarap karyanya yang berjudul “The Post-Modern Condition” sebagai kritikan atas karya “The Grand Narrative” yang dianggap sebagai dongeng hayalan hasil karya masa Modernitas. Berdasar konseptualisasi ini (jika disepakati) maka “kita” berada dalam  zaman postmodern. Suatu zaman, di mana pramodern dan modern telah dilewati.

Tokoh lainnya, dalam Les mots et les choses (1966) Foucault melahirkan istilah épistémè yang secara sederhana dapat diartikan sebagai keseluruhan ruang bermakna, stratigrafi yang mendasari kehidupan intelektual, serta kumpulan prapengandaian pemikiran suatu jaman. Bambang Sugiharto menyebut épistémè sebagai struktur kognitif fundamental yang mendasari keseluruhan pola berpikir masyarakat di suatu jaman. Beberapa kritikus lain menyebutkan bahwa épistémè bisa disejajarkan dengan paradigma menurut pandanganThomas Kuhn. Sebagai sebuah struktur, épistémè dapat dikenali dari salah satu sifat struktur yang disepakati oleh para pemikir strukturalis, yaitu totalitas.

Dalam bukunya L’archeologie du savoir (1969) Foucault menjelaskan épistémè sebagai sebuah totalitas yang menyatukan, dalam arti mengendalikan cara kita memandang dan memahami realitas tanpa kita sadari. Épistémè hanya berlaku pada suatu zaman. Ketika kita sadar akan épistémè yang mempengaruhi kita, berarti kita telah berada dalam épistémè yang berbeda, karena menurut Foucault épistémè tidak dapat dilihat atau disadari ketika kita ada di dalamnya. Épistémè tidak bisa dilacak, tetapi dapat ditemukan dengan cara mengungkap “yang tabu, yang gila, dan yang tidak benar” menurut pandangan suatu jaman tertentu. Pada saat kita menemukan “yang tabu”, maka kita telah mengetahui sebelumnya “yang pantas”. Saat kita tahu “yang gila” maka kita sebelumnya telah tahun mana “yang normal”. Demikian juga dengan “yang tidak benar”, saat kita temukan, berarti kita ada di dalam “yang benar”. Klasifikasi-klasifikasi itulah yang sepenuhnya didasari oleh épistémè suatu jaman. Oleh karena itulah Foucault sangat serius mendalami masalah kegilaan, seksualitas, dan kejahatan, karena melalui ketiga hal itulah dia bisa mengidentifikasi épistémè suatu jaman.

Pemikiran Foucault tentang episteme, memperlihatkan ide-ide post strukturalis Foucault yang mengarah pada postmodernisme. Manusia adalah bentukan dari épistémè yang mendasari wacana-wacana yang ada. Foucault baru berbicara tentang manusia sebagai subjek pelaku pada karyanya selanjutnya La Volonté du Savoir (1976)

Jika ditelaah kembali, filsafat postmodern sendiri pertama kali muncul di Perancis pada sekitar tahun 1970-an, terlebih ketika Jean Francois Lyotard menulis pemikirannya tentang kondisi legitimasi era postmodern, dimana narasi-narasi besar dunia modern (seperti rasionalisme, kapitalisme, dan komunisme) tidak dapat dipertahankan lagi.

Menurut Lyotard, nafas utama dari postmodern adalah penolakan atas narasi-narasi besar yang muncul pada dunia modern dengan ketunggalan terhadap pengagungan akal budi dan mulai memberi tempat bagi narasi-narasi kecil, lokal, tersebar, dan beranekaragam untuk bersuara dan menampakkan dirinya.

Sejak pertengahan tahun 1980-an, tokoh lainnnya yaitu Rorty yang banyak memfokuskan refleksinya di dalam ranah filsafat politik dan filsafat sosial. Di dalam tulisan-tulisannya yang berjudul Postmodernist Bourgeois Liberalism; The Priority of Democracy to Philosophy; Contingency, Irony, and Solidarity, dan di dalam Achieving Our Country, ia merumuskan pandangannya mengenai konsep diri (self), perbedaan antara kehidupan publik dan kehidupan privat, solidaritas sosial, kultur demokrasi, dan politik kiri (leftist politics).

Di dalam bukunya Contingency, Irony, and Solidarity, Rorty merumuskan konsep yang disebutnya sebagai ‘kosa kata-kosa kata final’ (final vocabularies), yakni suatu klaim bahwa ada berbagai macam orientasi fundamental di dalam kehidupan manusia, di mana orang bisa hidup dan berkembang. Kosa kata final inilah yang menjadi titik tolak bagi seseorang untuk mengekspresikan pandangan-pandangan maupun aspirasinya. Jadi, ketika orang bisa menyatakan bahwa saya merasa “senang”, “sedih”, atau saya berpendapat bahwa anda adalah seorang yang “pintar”, “memalukan”, atau “mulia” dengan mengacu pada tolak ukur fundamental yang orang tersebut yakini. Tolak ukur fundamental itulah kriteria yang diyakini secara subyektif, dan kemudian digunakan untuk mengekspresikan pikiran-pikiran seseorang. Jika kita melihat orang yang menolak penindasan buruh, maka cukuplah kita melihat dan memahami kosa kata final yang diyakini orang itu. Dan sebagai seorang yang mengidealkan nilai-nilai ironisme liberal, Rorty berpendapat bahwa kosa kata final seseorang juga bersifat kontingen, yakni suatu produk dari konstruk sosial tertentu yang tentu saja dapat berubah.

Akan tetapi, argumen Rorty tidaklah cukup untuk menjelaskan keterlibatan seseorang pada suatu nilai tertentu yang mendorong seseorang untuk mengorbankan dirinya sendiri. Rorty tidak berhasil menjelaskan, mengapa seseorang bisa mengorbankan segalanya untuk mewujudkan apa yang ia anggap sebagai benar. Ia hanya menjelaskan, bahwa seseorang ‘menggunakan kosa kata tertentu’ yang membuat dia melakukan suatu hal yang mungkin saja bertentangan dengan akal sehat. Dengan argumentasi ini, Rorty kehilangan nuansa makna yang justru sebenarnya sangat fundamental untuk memahami komitmen moral seseorang, yang mendorongnya untuk melakukan suatu tindakan tertentu. Kedalaman pemahaman tentang makna dan komitmen inilah yang kurang direfleksikan oleh Rorty.

Terlepas dari itu, pemikiran Rorty menunjukkan keberaniannya untuk merumuskan suatu bentuk ‘cara berpikir’ yang baru. Ia mengajak kita untuk melihat berbagai hal dengan sudut pandang yang baru, yakni cara berpikir kontingen. Cara berpikir ini dibangun atas dasar kesadaran, bahwa realitas dan segala sesuatu yang ada di dalamnya bersifat kontingen. Artinya, segala sesuatu itu bersifat tidak pasti, terbuka pada perubahan. Konsep ruang publik pun, di mana wacana tentang keadilan dan solidaritas berkembang, juga selalu bersifat kontingen. Keadilan dan solidaritas tersebut mengalir di dalam artikulasi para penulis novel, penyair, dan jurnalis. Dari tulisan mereka, kita bisa sungguh memahami apa arti penderitaan, keadilan, dan solidaritas sebenarnya. Melalui tulisan mereka jugalah, menurut Rorty, kita bisa memahami apa arti kehidupan.

Postmodernisme dianggap sebagai suatu pergerakan ide yang menggantikan ide-ide zaman modern. Zaman modern dicirikan dengan pengutamaan rasio, objektivitas, totalitas, strukturalisasi atau sistematisasi, universalisasi tunggal dan kemajuan sains. Postmodern memiliki ide cita-cita, ingin meningkatkan kondisi sosial, budaya dan kesadaran akan semua realitas serta perkembangan dalam berbagai bidang. Postmodern mengkritik modernisme yang dianggap telah menyebabkan sentralisasi dan universalisasi ide di berbagai bidang ilmu dan teknologi, dengan pengaruhnya yang mencengkram kokoh dalam bentuknya globalisasi dunia.

Postmodernisme juga merupakan sebuah proses intensifikasi (perluasan konsep) yang dinamis, yang merupakan upaya  terus menerus untuk mencari kebaruan, eksperimentasi dan revolusi kehidupan, yang menentang dan tidak percaya pada segala bentuk narasi besar (meta naratif), dan penolakannya terhadap filsafat metafisis, filsafat sejarah, dan segala bentuk pemikiran totalitas, dan lain-lain. Postmodern dalam bidang filsafat diartikan juga segala bentuk refleksi kritis atas paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya dan berusaha untuk menemukan bentuknya yang kontemporer.

Menurut Pauline Rosenau mengatakan bahwa, posmodernisme menganggap modernisme telah gagal dalam beberapa hal penting antara lain: 1). Modernisme dianggap gagal mewujudkan perbaikan-perbaikan dramatis sebagaimana diinginkan para pedukung fanatiknya. 2). Ilmu pengetahuan modern tidak mampu melepaskan diri dari kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan otoritas seperti tampak pada preferensi-preferensi yang seringkali mendahului hasil penelitian. 3). Kontradiksi antara teori dan fakta dalam perkembangan ilmu-ilmu modern. 4). Ada semacam keyakinan yang sesungguhnya tidak berdasar, bahwa ilmu pengetahuan modern mampu memecahkan segala persoalan yang dihadapi manusia dan lingkungannya; dan ternyata keyakinan ini keliru manakala kita menyaksikan bahwa kelaparan, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan terus terjadi menyertai perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi.  5).Ilmu-ilmu modern kurang memperhatikan dimensi-dimensi mistis dan metafisik eksistensi manusia karena terlalu menekankan pada atribut fisik individu.

Posmodernisme ini muncul untuk “meluruskan” kembali interpretasi sejarah yang dianggap otoriter. Untuk itu postmodernisme menghimbau agar kita semua berusaha keras untuk mengakui adanya identitas lain yang berada di luar wacana hegemoni. Posmodernisme mencoba mengingatkan kita untuk tidak terjerumus pada kesalahan fatal dengan menawarkan pemahaman perkembangan kapitalisme dalam kerangka genealogi (pengakuan bahwa proses sejarah tidak pernah melalui jalur tunggal, tetapi mempunyai banyak “sentral”).

 

Postmodernisme sebagai suatu gerakan budaya sesungguhnya merupakan sebuah oto-kritik dalam filsafat Barat yang mengajak kita untuk melakukan perombakan filosofis secara total untuk tidak lagi melihat hubungan antar paradigma maupun antar wacana sebagai suatu “dialektika” seperti yang diajarkan Hegel. Postmodernisme menyangkal bahwa kemunculan suatu wacana baru pasti meniadakan wacana sebelumnya. Sebaliknya gerakan baru ini mengajak kita untuk melihat hubungan antar wacana sebagai hubungan “dialogis” yang saling memperkuat satu sama lain.

Segala perdebatan ini tentunya dapat berdampak pada proses komunikasi interkultural dimana setiap orang memiliki cara pandang dan interpretasi tersendiri terhadap suatu hal. Interpretasi seseorang terhadap teks dalam sistem pengetahuan terdiri dari pengetahuan bahasa seperti kosa kata, ensiklopedi pengetahuan budaya dan juga konvensi, dan sejarah dan interpretasi sebelumnya terhadap teks lain. Seperti Eco yang mengatakan bahwa teks memproduksi efek sendiri, Michel Foucault juga beranggapan demikian. Teks bermakna bahwa konten tersebut mencoba untuk menyampaikan sesuatu, tidak hanya terkandung pada kata-kata dan juga apa yang menjadi niat dari penulis. Untuk mencari tahu dan memahami apa yang ada dibalik kata-kata tersebut, maka kita dituntut untuk membuat dugaan, hipotesis, dan dugaan.

Salah satu produk dari membaca text adalah adanya Model Reader. Menurut Eco, ada dua jenis reader, yaitu emperical reader dan model reader. Sangat penting untuk membedakan kedua tipe pembaca ini. Emperical reader adalah mereka yang interpretasinya lebih kabur, karena tidak mengikuti kaidah atau tidak adanya aturan yang umum. Sedangkan model reader adalah mereka yang menginterpretasi teks sesuai dengan aturan bahasa yang umum. Aturan umum yang dimaksud disini adalah hasil konsensus masyarakat, konvensi sosial yang membentuk kesamaan interpretasi. Eco, Foucauot dan Wittgenstein telah menjadi penulis yang meninggalkan atau mengabaikan text mereka sejak pertama kali mereka selesai menulis. Mereka paham bahwa ketika text mereka telah masuk kedalam ranah publik, maka makna dari text tersebut tidak dapat lagi dikontrol. Sehingga komunikasi mengambil tempat diantara pembaca dan text, bukan diantara penulis dan pembaca. Apa yang penulis pikir tidak memiliki konsekuensi dan tidak cukup relevan dengan pemahaman yang diperoleh  pembaca. Diskursus mengenai komunikasi kemudian memaparkan wacana dimana tidak diperlukan kecocokan antara ide dan pikiran.

 

 

Postmodernisme sendiri sebenarnya bukanlah suatu gerakan homogen atau suatu kebulatan yang utuh. Tapi sebaliknya, gerakan ini dipengaruhi oleh berbagai aliran pemikiran yang meliputi Marxisme Barat, struktualisme Prancis, nihilisme, etnometodogi, romantisisme, popularisme, dan juga hermeneutika. Heterogenitas inilah yang barangkali menyebabkan sulitnya pemahaman orang awam terhadap postmodernisme. Dalam wujudnya yang bukan merupakan suatu kebulatan, postmodernisme tidak dapat dianggap sebagai suatu paradigma alternatif yang berpretensi untuk menawarkan solusi bagi persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh modernisme, melainkan lebih merupakan sebuah kritik permanen yang selalu mengingatkan kita untuk lebih mengenali esensi segala sesuatu dan mengurangi kecenderungan untuk secara sewenang-wenang membuat suatu standar interpretasi yang belum tentu benar.

Ciri lain yang cukup dominan dari postmodern yaitu mengacu pada ide besar untuk mengurangi kekaguman dan memberikan kritik terhadap ilmu pengetahuan, dan teknologi, ini berarti menunjukan adanya pergeseran yang siginifikan atas era modernitas menuju era postmodernisme. Realitas yang cukup jelas bagi gerakan postmodernisme adalah sikapnya dalam memahami fenomena modern yang bernama “pengetahuan”, khususnya yang menyangkut  pengetahuan sosial. Ia memperkarakan tentang “Apa itu pengetahuan yang benar” secara genealogis dan arkeologis. Artinya, dengan melacak bagaimana pengetahuan itu telah beroperasi dan mengembangkan diri selama ini. Kategori-kategori konseptual dengan segala macamnya misalnya tentang  “kegilaan”, “seksualitas”, “manusia”, ”gender” dan sebagainya yang biasanya dianggap “natural” itu sebetulnya adalah situs-situs produksi pengetahuan.

Beberapa kecenderungan umum yang mendasari gerakan postmodernisme yang bisa dianggap sebagai kerangka konseptualisasi. Sebagai tambahan, dorongan munculnya gerakan postmodernisme adalah adanya persoalan-persoalan yang menyangkut hal-hal sebagai berikut: pertama, segala ‘realitas’ adalah konstruksi semiotis, artifisial, dan ideologis. Kedua, sikap skeptis dan kritis diri terhadap segala bentuk keyakinan tentang ‘substansi’. Ketiga, realitas bisa ditangkap dengan banyak cara (pluralisme). Keempat, segala ‘sistem’ konotasi otonom dan tertutup, diganti dengan ‘jaringan’, ‘relasionalitas’ ataupun ‘proses’ yang senantiasa saling-silang dan bergerak dinamis. Kelima, segala unsur ikut saling menentukan dalam interaksi jaringan dan proses dalam interelasinya dengan bebagai aspek, tidak hanya sebagai oposisi biner (either-or) dengan dua sisi saja. Keenam, segala hal harus dilihat secara holistik berbagai kemampuan (faculties) lain selain rasionalitas, misalnya, emosi, imajinasi, intuisi, spiritualitas, dan sebagainya. Ketujuh, segala hal dan pengalaman yang selalu dimarginalisasi oleh pola pikir ilmu pengetahuan modern dikembalikan ke tengah menjadi frame pemikiran. Misalnya, gender, feminisme kaum perempuan, tradisi-tradisi lokal, paranormal, agama.

Salah satu contoh dari teori postmodern adalah Teori hipersemiotik atau disebut juga hiperealitas Baudrillard yang mengacu pada Umberto Eco ini menegaskan bahwa realitas adalah palsu, bohong. Dalam hubungan dengan realitas yang diciptakan, hal itu berarti, realitas sengaja dipalsukan demi suatu kepentingan tertentu. Dalam konteks penelitian ini, pemalsuan realitas itu dipandang dalam dua dimensi. Pertama, realitas dipalsukan penguasa yaitu demi kepentingan politik kekuasaannya, dan kedua, realitas palsu itu wujud sebagai realitas palsu pula oleh pihak penentang rezim penguasa.

Jika pemalsuan realitas oleh rezim penguasa memiliki tujuan melanggengkan kekuasaan, pemalsuan oleh penentang kekuasaan bertujuan membongkar (mendekonstruksi) realitas palsu penguasa sebagai usaha menciptakan (atau mengembalikan) realitas yang seungguhnya yang dianggap sebagai realitas yang benar. Jika pemalsuan oleh rezim penguasa merupakan cara perwujudan politik kekuasaannya, maka pemalsuan oleh penentangnya merupakan cara pembongkaran politik kekuasaan rezim penguasa tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Referensi:

Bambang Sugiharto. 1996. Postmodernisme:Tantangan bagi Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.

Gary P. Radford. 2005. On The Philosophy of Communications. US: Wardsworth Publishing Company.

Griffin, EM. 2012. A First Look At Communication Theory Eighth Edition. NY: The McGraw Hill Companies, Inc

Littlejohn, Stephen W., Foss, Karen A. 2011. Theories of Human Communication, 10th Edition.

Illinois: Waveland Press Inc.

Littlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss. 1999. Theories of Human Communication: 7th   Edition.Belmont California: Wardsworth Publishing Company.

Karman. 2014. Jurnal Studi Komunikasi Media. Vol.18 No.1 Hal 75-88

Zainal Abidin, Filsafat Manusia: Memahami Manusia Melalui Filsafat, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya,2003), Cet. III

http://rumahfilsafat.com/tag/richard-rorty/ diakses pada 5 Desember 2015 Pkl. 21.23 WIB

https://nonkshe.wordpress.com/2012/03/13/filsafat-positivisme-dan-postmodernisme-positivisme/, diakses pada 6 Desember 2015 Pkl. 00.10 WIB

http://staff.ui.ac.id/system/files/users/suriella/publication/michelfoucault.pdf, terakhir diakses pada 6 Desember 2015 Pkl. 00.30 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s