Budaya, Ideologi, dan Hegemoni; Pendekatan Terhadap Kekuasaan

 

Anak Benua Asia yang dikenal dengan sebutan India dan berpenduduk mayoritas Hindu dan Budha pernah dikuasai oleh dinasti Islam yang salah satunya adalah dinasti Mughal (1526-1605 M).[1] Mughal merupakan salah satu kerajaan Islam terbesar yang berkuasa di India selama satu setengah abad. Meskipun sejak zama Babur[2] sampai Aurangzeb[3] tidak pernah lepas dari peperangan dan perebutan kekuasaan, kerajaan Mughal tidaklah melemah. Hal ini disebabkan karena kualitas kepemimpinan para sultan[4] yang menguasai kerajaan ini. Tokoh seperti Akbar dan Aurangzeb berhasil mengantarkan kerajaan Mughal ke puncak kejayaannya.[5] Sayangnya, setelah Aurangzeb meninggal, tidak ada satu pun pengganti yang mampu mempertahankan kekuasaan dan menghadapi pemberontakkan yang gencar dilakukan oleh golongan Hindu dan Sikh[6] yang ingin berkuasa dan melepaskan diri dari pemerintahan Mughal.

Kajian mengenai kekuasaan sering menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan[7]. Cerita di atas memberikan gambaran mengenai bagaimana kekuasaan menjadi sesuatu yang begitu  diinginkan oleh banyak orang. Membuat orang-orang rela untuk saling menjatuhkan bahkan membunuh satu sama lain hanya untuk mendapatkan kekuasaan tersebut. Ketika seseorang berkuasa, maka ia dapat dengan mudah menentukan agama apa yang harus dianut, hukum apa yang akan dijalankan, dan budaya seperti apa yang pantas berlaku di masyarakatnya. Jika demikian, jelas sangatlah besar pengaruh kekuasaan bagi kehidupan ini. Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan kekuasaan?

Menurut Max Weber (1992), kekuasaan adalah keegoisan dalam suatu kelompok yang walaupun keegoisan tersebut ditentang oleh kelompok lainnya, tetapi penentang tersebut tidak mampu melawan karena besarnya kekuasaan tersebut.[8] Kekuasaan secara umum diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk memberikan pengaruh terhadap perilaku seseorang sehingga sesuai dengan keinginan pelaku yang memiliki kekuasaan.[9] Dalam hal ini kekuasaan merupakan suatu konteks yang meliputi berbagai aspek kehidupan seperti sosial, ekonomi, politik, termasuk memberi pengaruh terhadap terciptanya suatu ideologi tertentu di masyarakat.

Marx dan Engels (2005) menggunakan istilah “ideologi” untuk menggambarkan ide dan representasi dominan dalam orde sosial. Karl Marx (2005) mengartikan ideologi sebagai pandangan hidup yang dikembangkan berdasarkan kepentingan golongan atau kelas sosial tertentu dalam bidang politik atau sosial ekonomi. Melalui ideologi, gagasan-gagasan mereka yang berkuasa mereproduksi kepentingan masyarakat dominan, mengontrol struktur masyarakat yang ada, serta lembaga-lembaga dan nilai-nilainya.[10]

Karl Marx and Friedrich Engels (2005) mengatakan bahwa dominasi suatu kelompok atas kelompok lainnya terjadi karena adanya perlawanan kelompok non dominan terhadap kelompok penguasa dominan. Dalam hal ini mereka lebih menitik beratkan pada dominasi para pemilik modal (kapitalis). Bahkan ideologi yang tercipta pun sengaja dibentuk dan diarahkan guna mengamankan dominasi kekuasaan kelompok sosial tertentu.[11]

Di mata kaum Marxist klasik, kelas penguasa memperkerjakan kaum intelektual dan produsen kebudayaan yang memproduksi gagasan-gagasan yang mendukung lembaga-lembaga dominan[12], mengarahkan gaya hidup tertentu untuk mempropagandakan gagasan-gagasan dalam bentuk-bentuk kebudayaan.[13]

Pengaruh istilah-istilah marxis seperti ideologi ini dianggap penting dan menjadi pendahulu terhadap adanya teori hegemoni Gramsci, karena hegemoni kekuasaan tidak dapat dilepaskan dari ideologi yang dianut atau ideologi yang dominan dalam suatu masyarakat tertentu.[14] Hegemoni merupakan penguasaan atau kekuasaan yang melebihi kekuasaan yang lain. Gramsci (2005) memakai dan mengartikan hegemoni sebagai sebuah pandangan hidup dan cara berpikir yang dominan, yang di dalamnya terdapat sebuah konsep tentang gagasan yang disebarluaskan dalam masyarakat baik secara institusional maupun perorangan, misalnya mengarahkan tren , kebiasaan moral, prinsip-prinsip religius dan politik, serta seluruh hubungan-hubungan sosial, khususnya dalam segi intelektual dan moral.[15]Antonio Gramsci (2005) mengembangkan gagasan tersebut lebih jauh dengan beragumen bahwa kelompok-kelompok sosial ini memperoleh hegemoni atau dominasi dengan cara mempengaruhi kaum bawah[16] agar mau bersepakat untuk tunduk pada kalangan dominan.

Gramci (2005) mengatakan bahwa kekuasaan atas intelektual dan budaya merupakan suatu bentuk hegemoni yang mempengaruhi pengambilan keputusan di kelompok masyarakat. Konsep hegemoni ini merupakan fasisme yang menggantikan rezim borjuis[17], di mana kontrol terletak pada kekuasaan negara. Gramsci (2005) sendiri dipenjara karena penentangannya terhadap rezim fasis[18] Mussolini. Selama berada dalam tahanan ia menuangkan catatan kritis mengenai fasisme yang merupakan kekuasaan tertinggi di Italia, ini merupakan salah satu contoh hegemoni yang pada akhirnya menjadi ideologi di masa itu.

Menurut Gramsci (2005), meskipun struktur kesatuan kelompok masyarakat dibentuk oleh negara, namun lembaga-lembaga masyarakat sipil berperan besar dalam mempertahankan hegemoni seperti lembaga gereja, sekolah, media, dan budaya popular. Pandangan Gramsci tersebut diperkuat munculnya fenomena yang terjadi di Amerika Serikat yang meyakini bahwa budaya media Amerika Serikat ideologinya sengaja diarahkan untuk mempromosikan kepentingan kapitalis. Industri budaya yang diselenggarakan pada akhirnya mencampur adukkan sistem dan menjual nilai-nilai tertentu yang memperkuat lembaga kapitalis seperti gaya hidup, tren, dan lainnya melalui media baru.[19]

Seorang ahli teori yang telah berafiliasi dengan Frankfrut School ,Walter Benjamin[20] (dalam Kellner, nd) menyoroti sisi progresif dalam produksi budaya teknologi baru seperti fortografi, film, dan radio. Ia mencatat bagaimana media baru menggantikan bentuk konvensional dan mereproduksi budaya massa. Ia percaya bahwa budaya massa mampu mendorong kemampuan kritis individu dalam menilai dan menganalisis budaya mereka sendiri. Hingga pada akhirnya Benjamin berkolaborasi dengan Seniman Jerman Bertolt Brecht dalam menciptakan sandiwara radio yang memanfaatkan media, mereka juga tertarik terhadap film yang dianggap sebagai alat perubahan sosial yang efektif dan signifikan. (Kellner, nd)

Dewasa ini, kekuasaan dan hegemoni mampu menciptakan serta menanamkan ideologi tertentu sesuai kehendak para pemegang kekuasaan dengan menggunakan media massa. Setiap gagasan yang diciptakan penguasa pada akhirnya akan menjadi gagasan massa berkat adanya peran media tersebut. Dengan demikian, tidak mengherankan jika budaya yang terbentuk pun merupakan cetakan dari hasil pemikiran kaum dominan[21] , masyarakat hanya mengikuti arus budaya[22] yang diciptakan oleh penguasa demi memenuhi kepentingan mereka. Misalnya ketika seorang penguasa dalam suatu negara mengharuskan rakyatnya untuk menggunakan simbol tertentu sebagai lambang ideologi maka masyarakat akan mengikuti keinginan tersebut, seperti lambang garuda di Indonesia.

Media inilah yang mampu membuka ruang bagi ideologi tertentu untuk dapat hadir ke permukaan yang kemudian diadopsi dan dianut oleh masyarakat yang mengonsumsinya. Hal ini dianggap sebagai cara yang efektif untuk  menguasai kelompok masyarakat tertentu.[23]

 

Bibliografi

Gramsci, A. (2005). “History of the Subaltern Classes” dalam Durham dan Kellner (Eds.) Media and Cultural Studies, Ch.1. Oxford: Blacwell Publishing.

Horkheimer, Max and Theodor Adorno. 2002. Dialectic of Enlightenment: Philosophical Fragments.  Translated by E. Jephcott. Stanford: Stanford University Press.

Kellner, D. (nd). “Cultural Marxism and Cultural Studies”.

Marx dan Engels. (2005). “The Ruling Class and the Ruling Ideas” dalam Durham and Kellner (Eds.) Media and Cultural Studies, Ch.1. Oxford: Blacwell Publishing.

Stoddart, Mark C.J., (2007). “Ideology, Hegemony, Discourse: A Critical Review of Theories of Knowledge and Power”. Social Thought and Research. Vol. 28.

http://ensiklo.com/2015/10/hegemoni-sosial-menurut-gramsci/ diakses pada 18 Februari 2016

  • [1] Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain, Gerakan Ahmadiyah di Indonesia, (Yogyakarta: LKiS, 2005), hlm. 46.
  • [2] Raja yang mendirikan dinasti Mughal
  • [3] Aurangzeb  merupakan keturunan raja Akbar yang dikenal sebagai raja Mughal terbesar bahkan melebihi kekuasaan raja Akbar (Zulkarnain)
  • [4] Sebutan bagi raja di dunia Islam
  • [5] Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain, Op.Cit., hlm. 47
  • [6] Agama yang dianut orang Punjabi, dianggap sebagai perpaduan antara agama Hindu and Islam (Zulkarnain)
  • [7] Anonim
  • [8] Diakses pada http://www.apapengertianahli.com/2015/06/pengertian-kekuasaan-menurut-para-ahli.html. 18 Februari 2016
  • [9] Anonim
  • [10] Dari Marx dan Engels (2005), dalam Kellner (2001), hlm.3-4
  • [11] Anonim
  • [12] Dari From Antonio Gramsci, “History of the subaltern classes” and “The concept of ‘ideology.’ (2005) dalam Kellner (2001), hlm. 13-14
  • [13] Anonim
  • [14] ibid
  • [15] Diambil dari http://ensiklo.com/2015/10/hegemoni-sosial-menurut-gramsci/ , diakses pada 18 Februari 2016
  • [16] Orang-orang miskin atau orang yang tidak punya kekuasaan
  • [17] Golongan yang mendapat kekuatan karena  pekerjaan atau pendidikannya, bukan karena bawaan sejak lahir.
  • [18] Secara umum digunakan untuk menunjukkan kecenderungan otoriter
  • [19] Dalam Kellner, nd, hlm. xix
  • [20] Seorang filsuf asal Jerman yang seringkali dianggap sebagai salah satu pemikir terpenting Mazhab Frankfurt.
  • [21] Kaum dominan yang dimaksud adalah para pebisnis, penguasa politik, dan sebagainya
  • [22] Arus budaya yang dimaksud adalah tren gaya, selera, kebiasaan, dan sebagainya
  • [23] Anonim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s