Budaya, Ideologi, dan Hegemoni; Elitisme dalam Budaya Massa

Elitisme merupakan sebuah konsep yang biasa digunakan oleh para pemikir di bidang politik mengenai bagaimana suatu kekuasaan politik tersebut diterapkan dalam suatu masyarakat (Birch, 1991). Secara umum perspektif elitisme mengungkapkan bahwa kekuasaan disebarkan secara tidak merata dalam masyarakat yang meliputi berbagai aspek seperti ekonomi, politik, bahkan  budaya (Birch, 1991). Dari asumsi inilah kemudian lahir teori tentang elit yang menjelaskan adanya pembagian kategori masyarakat ke dalam kelas yang berkuasa dan kelas yang dikuasai. Dalam konteks ini pembahasan elitisme dikaitkan dengan budaya massa yang tercipta dan berkembang di suatu masyarakat.

Sebuah institut penelitian sosial yang didirikan pada tahun 1920 di Frankfurt, Jerman mengembangkan pemikiran kristis dalam budaya massa dan komunikasi. Beberapa tokoh mahzab ini diantaranya adalah T.W. Adorno (1991) yang menganalisis tentang budaya dan musik populer, Leo Lowenthal (1961) membahas tentang kajian literatur dan majalah, serta Horkheimer dan Adorno (1991) yang mengembangkan perspektif dan kritik terhadap budaya massa yang kemudian disebut dengan kajian industri budaya. Institut ini dikenal dengan mahzab Frankfurt (Kellner, 2005).

Max Horkheimer dan T. W. Adorno (1991) membuat analisis industri budaya yang diterbitkan dalam buku mereka dengan judul Dialektika Pencerahan yang pertama muncul pada tahun 1948 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1972. Mereka berpendapat bahwa sistem produksi budaya didominasi oleh film penyiaran radio, surat kabar, dan majalah itu dikendalikan oleh iklan komersial yang diciptakan agar masyarakat patuh terhadap sistem kapitalisme konsumen (dalam Kellner,2005).

Sementara kritik kemudian muncul dan mengatakan bahwa pendekatan mereka dianggap terlalu manipulatif dan elitis. Horkheimer dan Adorno (1991) menggabungkan analisis sistem produksi budaya, distribusi, dan konsumsi dengan analisis dari beberapa macam teks dari industri budaya, dan dengan demikian menyediakan model kritis dan modus multidimensi kritik budaya yang mengatasi kesenjangan antara pendekatan yang hanya fokus pada ekonomi politik, teks, atau audien (dalam Kellner, 2005).

Tokoh penting lainnya dari mahzab Frankfurt adalah Walter Benjamin (1969). Ia merupakan seorang sosiolog dan kritikus budaya kelahiran Jerman yang pemikirannya banyak dipengaruhi oleh Marxisme, Bertolt Brencht, dan budaya mistik Yunani (Kellner, 2005). Benjamin (1969) menyoroti perkembangan mengenai teknologi media baru dalam produksi budaya seperti fotografi, film, dan radio. Dalam “The Work Art in the Age of Mechanical Reproduction” (1969, dalam Kellner, 2005), Benjamin (1969) mencatat tentang bagaimana media massa baru mampu menggeser bentuk budaya lama.

Esai yang ditulis oleh Benjamin (1969, dalam Kellner, 2005) ini merupakan sebuah bantahan argumentatif yang secara kritis mengajukan pandangan yang berbeda terhadap koleganya, Theodor Adorno (1991) mengenai industri budaya yang berkembang pesat pada saat itu. Esai ini memuat tentang berbagai perubahan budaya pada masyarakat sosial modern, khususnya terkait dengan berkembangnya media-media baru dalam seni serta perkembangan teknologi budaya visual.

Proses reproduksi mekanis mampu menyerupai bentuk asli objek yang diciptakan (Benjamin, 1969 dalam Kellner, 2005). Hal demikian merupakan salah satu contoh dari media baru dalam seni yakni fotografi. Adanya reproduksi merusak otentisitas, karena karya seni tersebut dapat dinikmati sepanjang waktu dan diciptakan berulang kali. Elemen yang hilang itulah yang disebut dengan aura. Reproduksi mekanis telah menghilangkan aura sebuah karya seni. Konsep aura yang digambarkan Benjamin (1969) dipahami sebagai ritual karya seni. Ia menganggap bahwa nilai otentisitas karya seni merupakan awal dari nilai guna aslinya. (Benjamin, 1969 dalam Kellner, 2005).

Benjamin (1969, dalam Kellner 2005) berpendapat bahwa karya seni memiliki dua nilai yang saling berlawanan, yakni nilai pemujaan dan nilai pameran. Nilai pemujaan ialah nilai yang terkandung dalam sebuah karya seperti patung-patung berhala yang dibuat untuk dijadikan sarana pemujaan yang disakralkan dari nilai keahliannya. Namun, dengan munculnya fotografi dan film karya seni dengan mudah digandakan maupun direproduksi kembali sehingga terjadi adanya pergeseran dari nilai pemujaan menjadi nilai pameran. Fungsi artistik karya seni itu pun kemudian berubah dengan kehadiran alat-alat teknis yang mampu mereproduksi karya seni secara instan. Dalam fotografi nilai pameran mulai menggantikan nilai pemujaan secara keseluruhan. Nilai pameran untuk pertama kalinya menunjukkan keunggulannya dibanding nilai ritual.

Menurut Benjamin (dalam Kellner, 2005) secara teknis seni dapat direproduksi alat-alat tertentu yang dibuat khusus untuk memotret atau menyimpan rekaman suatu peristiwa. Misalnya, kamera yang digunakan dalam fotografi dapat mereproduksi lukisan, dengan demikian kita dapat melihat lukisan Mona Lisa tanpa perlu pergi ke Paris. Selain gambar, suara juga dapat direproduksi. Perekam suara bisa mereproduksi konser yang tidak pernah kita datangi, atau mengabadikan pertunjukan teater yang tidak pernah kita tonton secara langsung. Karya seni yang kita nikmati menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan siapa pun mampu mengakses kembali karya yang direproduksi tersebut, dan kita tidak perlu membayar mahal hanya untuk sebuah tiket konser atau menghadiri pameran lukisan setiap waktu.

Proses reproduksi seni seperti fotografi, rekaman, dan video seperti inilah yang pada akhirnya tumbuh dan berkembang menjadi budaya massa, yakni budaya yang berlangsung di antara masyarakat umum atau dapat juga disebut sebagai budaya yang dilakukan oleh orang banyak. Mereka yang memiliki alat teknis untuk mereproduksi karya seni adalah kelompok yang berkuasa di atas kelompok yang tidak memilikinya, inilah yang dimaksud dengan elitisme budaya massa.

Esai “The Work Art in the Age of Mechanical Reproduction” (1969, dalam Kellner, 2001) ini cukup menjelaskan tentang kemunculan dan perkembangan alat-alat teknis yang menciptakan budaya massa dan berpengaruh terhadap orisinalitas sebuah karya seni seperti kamera dalam fotografi. Sayangnya, penjelasaan mengenai konsep aura yang merupakan konsep inti dari pemikiran Benjamin (1969) masih terasa abstrak dan kurang mendalam sehingga berpotensi untuk menimbulkan ambiguitas bagi pembacanya.

 

Bilbiografi

Birch, Anthony H., The Concepts and Theories of Modern Democracy, New York: Routledge, 1997.

Benjamin, Walter (1969) “The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction,” in Illuminations. New York: Shocken. Dalam Kellner, 2005.

Blunden, A. (1998). “The Culture Industry”. Bisa diakses di https://www.marxists.org/reference/archive/adorno/1944/culture-industry.htm

Horkheimer dan Adorno. “The Culture Industry”. Durham and Kellner, 2005.

Troost, J. (2005). “A Critical Discussion of the Work of Art in the Age of Its Technological Reproducibility”, diakses di http://contemporaryartparis.perso.sfr.fr/benjaminrepro.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s