Heterogenitas Ekonomi Politik Budaya dalam Konteks Media

By: SAU

Seiring dengan perkembangan teknologi, media menjadi salah satu kebutuhan penting bagi masyarakat sebagai sarana penyedia informasi dan komunikasi. Kebutuhan ini cenderung membuat masyarakat menjadi bergantung pada media, dan kemudian memicu munculnya industri media yang menjamur saat ini. Keberadaan media di tengah masyarakat dapat mempengaruhi berbagai aspek dalam kehidupan sehari-hari seperti aspek sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Korelasi media dengan aspek-aspek tersebut menciptakan suatu budaya masyarakat tersendiri, yakni budaya konsumsi terhadap media.

Tulisan ini akan membahas tentang bagaimana budaya konsumsi media dilihat dari sudut pandang ekonomi politik berdasarkan pada artikel-artikel hasil pemikiran para ahli mengenai kajian budaya dan media, seperti Eileen R. Meehan dalam Gendering the Commodity Audience (2002), Pierre Bourdieu dalam The Forms of Capital (1986) dan On Television (1998), serta Williams dalam Base and Superstructure in Marxist Cultural Theory (1980).

Williams (1980, dalam Kellner, 2005), menyinggung tentang tentang asumsi Marxis “Economic Determinism” yang menganggap bahwa sistem ekonomi mempengaruhi sistem lainnya, sehingga semua sistem ditentukan oleh faktor ekonomi. Dalam Economic Determinisme terdapat konsep basis dan superstruktur. Basis terkait dengan ekonomi, sedangkan superstruktur meliputi ideologi, agama, politik, budaya, seni, dan lainnya. Menurut Marx, basis (ekonomi) adalah faktor yang menentukan superstruktur (1980, dalam Kellner, 2005).

Seorang sosiolog Perancis Pieree Bourdieu (1986) mengkritisi pemikiran Marx di atas, ia mengatakan bahwa modal ekonomi bukanlah satu-satunya hal yang menentukan kelas sosial dalam masyarakat (Ritzer dan Goodman, 2012). Bourdieu (1986) berpendapat bahwa terdapat modal-modal lain seperti modal sosial, modal budaya, dan modal simbolik yang turut berperan dalam menentukan kelas seseorang di dalam masyarakat (1986, dalam Kellner, 2005). Dalam hal ini Bourdieu (1984, dalam Kellner, 2005) memusatkan perhatiannya terhadap modal budaya terutama mengenai budaya konsumsi masyarakat terhadap media media.

Modal sosial merupakan bagian dari sumber daya potensial yang terkait dengan kenggotaan kelompok. Keanggotaan dalam suatu kelompok menjadi modal simbol yang memberikan pemiliknya akses terhadap modal lainnya (Bourdieu, 1984). Besarnya modal sosial yang dimiliki oleh seorang anggota kelompok bergantung pada seberapa besar jaringan yang ia miliki dan besarnya modal (ekonomi, budaya, dan simbolik) yang mampu ia manfaatkan dari hubungan melalui jaringan tersebut. Misalnya, ketika seseorang memiliki rekan yang kaya raya maka memungkinkan ia untuk mendapatkan modal ekonomi dari rekan tersebut seperti pinjaman uang.

Melalui modal sosial, seseorang juga dapat meningkatkan modal budayanya dengan berinteraksi dengan seorang ahli dalam bidang tertentu. Melihat hal tersebut dapat dikatakan bahwa modal-modal tersebut berhubungan satu sama lain. Selain itu, modal ekonomi bukanlah menjadi satu-satunya faktor penentu kelas sosial dalam masyarakat. Seseorang dengan modal ekonomi lemah dapat menutupinya dengan memiliki modal sosial dan modal budaya yang tinggi. Misalnya, kisah Chaerul Tanjung si anak singkong yang miskin namun tetap diterima oleh lingkungannya ketika ia memiliki prestasi (modal simbolik) dan disukai oleh guru dan teman-temannya (modal sosial).

Dalam konteks media dilihat dari pemikiran Marx, para pemilik media merupakan pemilik modal (basis struktur) yang mampu mempengaruhi superstruktur yang ada di masyarakat, artinya terjadi dominasi oleh kelas pemilik modal yang memiliki alat produksi terhadap kelas yang tidak memilikinya (William, 2003).

Selanjutnya, untuk mengetahui bagaimana budaya masyarakat dalam konsumsi media terbentuk dapat dikaitkan dengan pendapat Bourdieu (1986) yang menduga bahwa terdapat pembagian kelas sosial tertentu yang tercipta dalam masyarakat. Pembagian kelas tersebut memberi pengaruh dalam membentuk perilaku masyarakat dalam mengkonsumsi media, salah satunya adalah kelas sosial yang dibedakan berdasarkan gender.

Eileen R. Meehan dalam Gendering the Commodity Audience (2002, dalam Kellner, 2005) mengatakan bahwa terdapat dominasi kelas dalam industri media, di mana selera khalayak sebagai konsumen diarahkan sesuai dengan keinginan para pemilik media melalui konten yang disajikan oleh media yang dimilikinya. Selain itu, dominasi menurut Meehan (2002) adalah dominasi berdasarkan kelas gender antara laki-laki dan perempuan. Meehan (2002), dalam Kellner, 2005) mengacu pada pemikiran feminis dan menemukan bahwa salah satu penyebab mengapa perempuan cenderung lebih konsumtif terhadap media adalah karena adanya sistem patriaki yang berlaku di masyarakat. Di mana sebagian besar perempuan tidak diperbolehkan mencari nafkah dan hanya diam di rumah sehingga berpeluang untuk mengkonsumsi media lebih banyak dari laki-laki yang menghabiskan waktunya bekerja di luar rumah (2002, dalam Kellner, 2005).

Khalayak secara umum dijadikan sebagai komoditas penting oleh pemilik media untuk mendukung keberlangsungan media itu sendiri (Meehan, 2002). Jika sebuah media mampu menyajikan tontonan yang menarik khalayak, artinya media tersebut akan meraup khalayak dalam jumlah besar, maka akan semakin banyak pihak yang memasang iklan di media tersebut, media pun akan mendapatkan rating yang tinggi. Hal ini tentu saja berdampak pada kondisi ekonomi media itu sendiri yaitu pencapaian profit yang tinggi, serta aspek politik di mana media memegang kekuasaan dominan atas khalayak. Khalayak secara tidak sadar telah menjadi korban penindasan yang disebut dengan kekerasan simbolik oleh Bourdieu (1986, dalam Kellner,2005).

Ide Bourdieu (1986, dalam Kellner, 2005) tentang modal seperti ini, terlepas dari pemahaman tradisi Marxian dan juga konsep ekonomi formal. Konsep ini mencakup kemampuan melakukan kontrol terhadap masa depan diri sendiri dan orang lain. Pemetaan itu tidak berbentuk piramida atau tangga, tetapi berupa pembedaan atas dasar kepemilikan modal dan komposisi modal tersebut. Melalui pendekatan ini, maka setiap kelas sosial tidak dapat didefinisikan secara terpisah, tetapi selalu berhubungan dengan kelas-kelas lain yang ada di dalam suatu masyarakat.

 

BILBIOGRAFI:

 

Meehan, E. 2002. “Gendering the Commodity Audience”. Dalam Durham and Kellner (2005)

Bourdieu, P. 1984. “Distinction”. Dalam Durham and Kellner (2005)

Bourdieu, P.1986. “Forms of Capital”. Dalam Durham and Kellner (2005)

Bourdieu, P.1986. “On Television”. Dalam Durham and Kellner (2005)

Williams, R. 1980. “Base and Superstructure in Marxist Cultural Theory”. Dalam Durham and Kellner (2005)

Ritzer & Goodman. Teori Sosiologi Klasik – Post Modern Edisi Terbaru (Trans: Nurhadi). Yogyakarta: Kreasi Wacana. 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s