Balada Iwan Fals; Subkultur Nyayian Satire?

By: SAU

Siapa yang tidak mengenal Iwan Fals? Seorang penyanyi papan atas yang telah berkecimpung di belantika musik Indonesia hampir setengah abad lamanya. Pada tahun 1980-an, di saat sebagian besar musisi tanah air menciptakan lagu-lagu genre disko dan rock bertemakan cinta, Iwan secara lantang menyuarakan kegundahannya tentang keterpurukan yang terjadi di  tanah air, dengan menciptakan sekaligus menyanyikan lagu-lagu balada satire[1] yang berisi kritik dan gambaran atas kondisi sosial, ekonomi, budaya, dan politik seperti kinerja pemerintah di.Indonesia, terutama pada masa pemerintahan Orde Baru.

Syair yang terdapat dalam lagu Iwan Fals mempunyai ciri khusus yang karakternya berbeda dengan lagu-lagu Indonesia lainnya, lebih terdengar seperti obrolan, curhatan, dan sindiran. Gagasan tersebut ia dapatkan dengan melihat fenomena sosial yang terjadi di sekitarnya pada waktu itu seperti kemiskinan, korupsi, ketidakadilan, dan dominasi kekuasaan pemerintah. Semua itu ia tuangkan menjadi syair lagu yang hingga kini masih digemari oleh masyarakat Indonesia diantaranya lagu “Demokrasi Nasi” yang mengkritisi kemiskinan pada rezim Soeharto, “Siang Seberang Istana” dan “Lontekku” untuk membela hak bersuara,  “Oemar Bakri” tentang pengorbanan dan kesusahan tenaga pendidik, dan lagu lainnya.[2]

Musik merupakan industri budaya yang memiliki peran strategis dalam proses reproduksi legitimasi hegemoni Orde Baru (Sen dan Hill, 2000). Tapi, Iwan justru menjadikannya sebagai bentuk protes dan gerakan perjuangan melawan hegemoni, lagu-lagu Iwan dianggap mampu mewakili suara hati pihak subordinat (kelas pekerja) yang merasakan ketidakadilan para penguasa di kala itu seperti pejabat pemerintah (kelas penguasa). Oleh karena itulah lagu Iwan menjadi kontroversial dan dikecam oleh pihak penguasa yang merasa “tersindir”.

Melalui syair yang dibawakannya, Iwan Fals mampu menarik perhatian masyarakat yang memiliki kegundahan yang sama akan nasib negeri ini. Seiring berjalannya waktu, penggemar balada Iwan Fals jumlahnya semakin banyak sehingga terbentuk kelompok fanatis bernama komunitas OI (Orang Indonesia)[3]. Pada tahun 1999[4], mereka kemudian membentuk subkultur yaitu penikmat lagu satire Iwan Fals. Hebdige (1979, dalam Kellner, 2005) memberikan gambaran mengenai berbagai cara yang dilakukan oleh suatu individu untuk menciptakan budaya  yang berbeda dari kebudayaan induknya, salah satunya dengan berkelompok dan menciptakan identitas mereka sendiri yang disebut dengan subkultur.

Hebdige (1979) mengatakan “Anggota sebuah subkultur tertentu biasanya memiliki ciri khusus untuk menunjukan keanggotaan mereka  melalui gaya hidup atau simbol-simbol yang mereka kenakan”. Misalnya bendera dan logo komunitas OI sebagai lambang identitas bagi para pencinta karya-karya Iwan Fals. Bendera dan logo ini selalu berkibar di setiap konser yang digelar, bahkan pada konser-konser penyanyi lain bendera pun tetap berkibar. Oleh karena itu, dalam mengkaji subkultur diperlukan juga studi tentang semiotik untuk mengetahui bagaimana simbol tersebut diinterpretasikan suatu kebudayaan (Hebdige, 1979).

Segala hal yang dilakukan oleh individu atau kelompok memiliki makna tertentu yang ada dibaliknya, hal tersebut dapat dipahami dengan mengetahui makna atas simbol-simbol yang ada yang kemudian dikenal sebagai semiotika (Barthes, 1972 dalam Kellner, 2005). Barthes (1972) menekankan pada fungsi simbol-simbol dalam teks berinteraksi dengan pengalaman pribadi individu yang menggunakannya. Misalnya semiotik yang terkandung dalam logo Oi seperti gambar di bawah ini adalah bentuk huruf “O” berwarna putih miring ke kanan menyatu dengan bentuk menyerupai huruf “i” tegak berwarna hitam melambangkan kesucian yang dilandasi keteguhan dan ketegasan sikap. Titik bulat di atas huruf i berwarna merah darah melambangkan semangat yang membara untuk bersatu.[5]

 

 

Logo penggemar fanatik Iwan Fals

 

Para anggota secara aktif mengikuti hampir setiap konser yang diadakan oleh Iwan Fals, mereka juga aktif mengunakan media khususnya media sosial sebagai sarana berbagi informasi mengenai kegiatan Iwan Fals dan berdiskusi tentang berbagai isu yang sedang berkembang di masyarakat dan menjadi khalayak aktif.

Herbert Schiller (1989) dalam Kellner (2005) yang menganalisis hubungan antara khalayak aktif dan media, di mana keduanya dianggap memiliki hubungan yang erat dan menjadi saling ketergantungan. Hubungan tersebut ditunjukkan dengan munculnya kebutuhan bagi anggota komunitas untuk mengakses informasi yang berkaitan dengan kegiatan Iwan dengan menggunakan media, begitu pun media yang membutuhkan Iwan Fals dan komunitasnya untuk dijadikan sebagai topik pemberitaan.

Meskipun syair balada Iwan Fals yang berisi kritikan tersebut mendapatkan animo yang luar biasa dari penggemarnya, namun pada akhir masa Orde Baru Iwan sudah tidak menciptakan lagi lagu-lagu satire seperti sebelumnya. Ia mulai menciptakan dan menyanyikan lagu-lagu yang bertemakan cinta seperti lagu-lagu pada umumnya. Ketika tema lagu-lagu Iwan bergeser hal itu tidak mengubah kecintaan penggemar Iwan terhadap karya-karyanya. Iwan yang sebelumnya kontra dengan pemerintah masa Orde Baru, kini terksan lebih mendukung pemerintah begitu pun dengan para penggemar fanatiknya.

Hal di atas menunjukkan bahwa tidak menutup kemungkinan sebuah subkultur dapat menyatu kembali dengan kultur dominan. Sesuai dengan pernyataan Hebdige (1979, dalam Kellner), menurutnya “Subkultur dapat dijadikan sebagai sebuah alternatif bagi anggotanya tapi Subkultur juga dapat menyatu kembali dengan budaya induknya”.

Menurut hemat saya, selain untuk mengekpresikan diri, musik juga dijadikan sebagai sarana oleh sebagian orang seperti musisi dan pecinta musik untuk melawan hegemoni penguasa sesuai dengan bidang dan gaya mereka sendiri seperti yang dilakukan oleh Iwan Fals ini. Syair pada lagu-lagu balada Iwan Fals yang berbeda dari jenis lagu pada umumnya di masa Orde Baru dapat dikategorikan sebagai bagian dari subkultur yang terbentuk.

Subkultur sendiri tidak  harus selalu berupa pertentangan ekstrim terhadap budaya induk yang mengarah pada demoralisasi melalui tindakan dan penampilan saja seperti yang dilakukan oleh anak punk,  tetapi juga bisa pertentangan melalui karya dan gagasan yang membangun, misalnya isi syair lagu Iwan Fals yang melawan arus syair lagu pada umumnya. Keduanya berada pada ranah yang sama yaitu menentang, melalui komunitas membuat budaya  tandingan namun dituangkan dalam cara yang berbeda.

 

Bilbiografi:

Sen and Hill. (2000). Media, Budaya, dan Politik di Indonesia. Jakarta; ISAI

Barthes, R. (1972), Mythologies, Paladin. Dalam Durham dan Kellner. 2005.

Hebdige, Dick (1979) Subculture: The Meaning of Style. New York and London: Routledge. Dalam Durham dan Kellner. 2005.

Schiller, H. I. (1989). Culture, Inc.: The Corporate Takeover of Public Expression. New York:

Oxford University Press. Dalam Durham dan Kellner. 2005.

 

 

 

 

[1] Gaya bahasa yang dipakai dalam kesusastraan untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang (KBBI).

[2] Penulis dengar dari http://www.youtube.com

[3] Diakses dari situs https://setitikkehidupan.wordpress.com/2011/04/22/sejarah-tentang-iwan-fals-dan-logo-oi/. 14 Maret 2016.

[4] Blog Kita 21. Desember 2012. 5 Fansclub terbesar di Indonesia. Diakses dari http://blogkita21.blogspot.co.id/2011/01/5-fans-klub-terbesar-di-indonesia.html. 14 Maret 2016.

[5] Hio Arianto, 16 Agustus 2000. Arti dan Makna Logo Oi. Diakses dari  https://logooi.wordpress.com/2000/08/16/arti-makna-logo-oi/ . 15 Maret 201

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s