Representasi Ideologi Pancasila dalam Film Sayap Kecil Garuda

By: SAU

Beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia patut berbangga dengan munculnya film- film garapan anak bangsa yang mampu menyajikan tontonan berkualitas yang dikemas sedemikian rupa dengan mengusung berbagai tema menarik seperti nasionalisme, kuliner, toleransi beragama, dan yang tidak kalah unik adalah tema yang diangkat oleh sineas Aditya Gumay mengenai Pancasila. Film ini mengisahkan tentang seorang anak yang mengalami kesulitan dalam menghafalkan sila-sila yang terkandung dalam teks pancasila beserta simbol-simbolnya.[1]

Pancasila merupakan dasar negara Republik Indonesia yang berisi tentang pandangan hidup dan dijadikan sebagai ideologi bangsa dan negara.[2] Althusser (1971) dalam Hall (1985) mendefinisikan ideologi sebagai sistem representasi yang terdiri atas konsep dan gagasan. Sistem representasi adalah sistem makna yang mewakili suatu konsep tertentu yang diekspresikan melalui bahasa. Hall (1985) menguatkan hal tersebut dengan mangatakan bahwa pengetahuan tercipta sebagai hasil dari praktik yang kemudian direpresentasikan melalui bahasa.

Jika dilihat secara secara etimologis, menurut Muhammad Yamin, dalam bahasa sansekerta kata Pancasila memilki dua macam arti secara leksikal[3] yaitu panca artinya lima, syila (vokal i pendek) artinya batu sendi, alas atau dasar. Sedangkan syiila (vokal i panjang) artinya peraturan tingkah laku yang baik, yang penting atau yang senonoh. Kata-kata tersebut kemudian dalam bahasa Indonesia terutama bahasa Jawa diartikan susila yang memilki hubungan dengan moralitas. Adapun istilah Panca Syiila dengan huruf Dewanagari[4] i bermakna 5 aturan tingkah laku yang penting.[5]

Selain bahasa, simbol juga memegang peranan penting dalam merepresentasikan ideologi pancasila yang diwakili oleh Garuda. Althusser (1971) dalam Hall (1985) mengatakan konsep dapat terwujud dalam praktik-praktik sosial. Dapat diartikan bahwa kehidupan sosial tidak pernah terlepas dari semiotik[6]. Setiap praktik sosial didasari oleh interaksi makna yang direpresentasikan oleh hal-hal tertentu yang dianggap mewakili konsep tersebut. Setiap praktik sosial didasari oleh interaksi makna dan representasi  yang dapat mewakili (Althusser (1971) dalam Hall (1985).

Hal tesebut menunjukkan bahwa betapa signifikannya peran bahasa dan simbol sehingga dapat merepresentasikan ideologi. Sayangnya, sebagian besar dari warga negara Indonesia mungkin tidak mengetahui makna baik secara etimologi[7] maupun terminologi[8] dari kata Pancasila itu sendiri. Pancasila hanya dijadikan sebatas hafalan saja tanpa disertai dengan rasa tanggung jawab untuk memahami dan mengamalkannya. Kata Pancasila seolah tidak mengandung makna penting bagi bangsa ini, padahal para pejuang rela mengorbankan jiwa raganya demi merumuskan pedoman hidup bagi rakyat Indonesia.

Generasi bangsa saat ini sudah seharusnya lebih menghargai sejarah agar dapat memahami betapa pentingnya penerapan ideologi Pancasila untuk dijadikan pedoman dalam menjalankan nilai-nilai dalam berbagai bidang kehidupan berbangsa dan berbudaya kita. Dalam hal ini sejarah merupakan salah satu hal pokok yang memberikan pengaruh besar dalam proses terciptanya sebuah ideologi (Hall, 1985).

Film Sayap Kecil Garuda ini memperlihatkan bagaimana segelintir orang Indonesia memaknai Pancasila sebagai ideologi bangsanya serta membuka sebuah ruang diskusi untuk menganggapi hal apa yang lebih baik; hafal Pancasila namun tidak mengamalkannya, atau tidak hafal Pancasila namun perilakunya mencerminkan jiwa Pancasila?[9] Menurut saya, selain menjadi representasi ideologi Pancasila, film ini juga bisa merepresentasikan publik tertentu yang memaknai Pancasila dengan cara yang persis seperti yang digambarkan di dalam film tersebut.

Pada era digitalisasi seperti sekarang ini, film menjadi salah satu media yang paling diminati oleh hampir semua kalangan. Film mampu menampilkan gambar bergerak yang disertai suara yang disesuaikan dengan alur cerita yang ditampilkan sehingga mudah untuk dinikmati oleh khalayak. Pada perkembangannya, film bukan hanya menampilkan kisah kehidupan biasa, namun juga menjadi sarana untuk menyampaikan pesan, menanamkan nilai, serta mendorong perubahan ke arah tertentu sesuai dengan kepentingan produsen film yang bersangkutan.

Film yang merupakan salah satu cabang dari industri media, kini menjadi alternatif untuk menanamkan ideologi kepada masyarakat melalui makna-makna yang terkandung dalam film, di mana makna disampaikan melalui adegan dan bahasa tertentu. Perlu ditekankan bahwa bahasa merupakan salah satu untur terpenting dalam pembentukan ideologi (Hall, 1985).

Sebagai cabang dari industri media yang dikonsumsi secara massal oleh khalayak, film memicu khalayak untuk dapat bepikir kritis mengenai fenomena yang mereka tonton di dalam adegan film.  Jadi, bukankah seharusnya film juga terbebas dari kepentingan kekuasaan pihak tertentu? Sehingga nilai-nilai yang disampaikan melalui konten film pun bersifat netral, misalnya menghindari kecenderungan untuk mendukung atau menolak situasi politik tertentu melalui konten film itu sendiri. Media seharunya menjadi ruang publik yang bebas dari segala unsur kekuasaan, sehingga memberikan kesempatan bagi khalayak untuk dapat mengemukakan pendapat dan mengekspresikan perasaannya (Habermas, 1962 dalam Kellner, 2005). Ruang publik merupakan ruang di mana terdapat pihak-pihak yang berdiskusi mengenai isu tertentu yang pada akhirnya bertujuan untuk menghasilkan opini publik (Habermas, 1962 dalam Kellner, 2005)

Mengacu pada pemikiran Habermas (1962) dalam Kellner (2005), dalam konteks film para sineas seharusnya diberikan kebebasan berekspresi untuk menuangkan gagasan-gagasan sesuai dengan tujuan dan harapan mereka dalam proses pembuatan film. Tentu saja tanpa disertai dengan adanya campur tangan pihak lain yang berambisi untuk mengubah pandangan atau menanamkan ideologi tertentu kepada khalayak melalui film para sineas, dengan melakukan intervensi dalam menentukan alur cerita, penggunaan simbol dan lainnya demi kepentingan mereka. Misalnya saja pemerintah atau bahkan para sponsor dan pemilik perusahaan besar. Jika demikian, lantas apakah sebenarnya ketika pembuatan film sedang berlangsung dapat dijadikan sebagai ruang publik? Atau justru film ini menjadi senjata media dan penguasa untuk mendapatkan dominasi atas khalayak?

 

Bilbiografi

Durham dan Kellner. (2005). Media and Cultural Studies. Massachusetts: Blackwell.

Hall, S. (1985). “Signification, representation, ideology: Althusser and the post-structuralist debates”. Critical Studies in Media Communication. Diakses dari http://www.hu.mtu.edu/~jdslack/readings/CSReadings/Hall_Signification_Repres entation_Ideology.pdf

Kristanto, JB. (2004). Nonton Film Nonton Indonesia. Jakarta : Kompas Gramedia.

 

 

 

 

[1]Tomo (nd), Sayap Kecil Garuda, Film Tentang Pancasila, diakses 10 Maret 2016, dari http://jadiberita.com/17775/sayap-kecil-garuda-film-tentang-pancasila.html

[2] Pengertian Pancasila secara Etimologis, Terminologis, dan Historis, diakses 10 MAret 2016, dari http://pancasila2013.weebly.com/pengertian-pancasila.html

[3] Makna dasar sebuah kata yang sesuai dengan kamus (KBBI)

[4] Aksara yang digunakan untuk menuliskan bahasa sangsekerta

[5] Muhamad Yamin (nd), Pengertian Pancasila secara Etimologis, Terminologis, dan Historis, diakses 10 MAret 2016, dari http://pancasila2013.weebly.com/pengertian-pancasila.html

[6] Segala sesuatu yang berhubungan dengan sistem tanda dan lambang dalam kehidupan manusia

[7] Cabang ilmu bahasa yang membahas tentang asal usul kata serta perubahan bentuk dan maknanya (KBBI)

[8] ilmu mengenai batasan atau definisi istilah (KBBI)

[9] Tomo (nd), Sayap Kecil Garuda, Film Tentang Pancasila, diakses 10 Maret 2016, dari http://jadiberita.com/17775/sayap-kecil-garuda-film-tentang-pancasila.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s