Basis sebagai Determinan atas Superstruktur dalam Konteks Pendidikan

By: SAU

Fenomena anak putus sekolah di jenjang sekolah dasar sampai menengah memang sudah jarang dijumpai di Indonesia abad 21 karena masalah ekonomi seharusnya sudah tidak menjadi alasan utama bagi mereka untuk berhenti mengenyam pendidikan. Hal tersebut dapat terwujud berkat adanya program wajib belajar 12 tahun, yang mewajibkan semua anak untuk bersekolah hingga sekolah menengah atas dan segala biaya ditanggung oleh pemerintah.[1] Program ini bertujuan untuk meningkatkan standar pendidikan anak Indonesia, sehingga pendidikan minimal mereka berada pada jenjang  menengah atas.

Program wajib belajar merupakan upaya dari pemerintah agar anak-anak Indonesia mempunyai kualitas dan bekal pendidikan yang lebih baik agar siap menghadapi dunia kerja nantinya. Masalahnya, saat ini persaingan di dunia kerja semakin ketat dan menuntut kualifikasi individu yang lebih dari sekedar tamatan sekolah menengah atas saja. Di luar sana masih banyak anak-anak yang tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dengan alasan yang klasik, yaitu faktor ekonomi.

Melihat permasalahan tersebut dapat dikatakan bahwa pada dasarnya segala bentuk kegiatan manusia akhirnya akan kembali dikaitkan dengan permasalahan ekonomi. Hal ini dapat dikaitkan dengan asumsi Marx (1976) “Economic Determinism” yang menganggap bahwa sistem ekonomi mempengaruhi sistem lainnya, sehingga semua sistem ditentukan oleh faktor ekonomi (Williams, 1980 dalam Kellner, 2005).

Dalam determenisime ekonomi tersebut terdapat konsep basis dan superstruktur. Di mana basis biasanya dikaitkan dengan ekonomi, sedangkan superstruktur terkait dengan praktik budaya yang meliputi ideologi, agama, politik, budaya, seni, ilmu pengetahuan (pendidikan), dan lainnya (Williams, 1980). Marx (1976) dengan tegas menyatakan bahwa basis (ekonomi) adalah faktor yang menentukan superstruktur.

Dilihat dari pemikiran Marx (1976), dalam konteks pendidikan para pemberi beasiswa merupakan pemilik modal (basis struktur) yang mampu mempengaruhi superstruktur yang ada di masyarakat, artinya terjadi dominasi oleh kelas pemilik modal yang memiliki modal terhadap kelas yang tidak memilikinya (William, 1980).

Jika faktor ekonomi sebagai basis menjadi satu-satunya determinan atas superstruktur, maka hal ini akan menyebabkan munculnya hegemoni dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Isu terkait hegemoni ini yang kemudian dikaji oleh William (1980) dalam pembahasannya tentang “Kompleksitas Hegemoni”.

Dengan adanya hegemoni, para penguasa sektor ekonomi dengan mudahnya dapat menentukan kesadaran yang tercipta (William, 1980). Kesadaran tersebut dapat berupa ideologi apa yang diterapkan, agama apa yang dianut, bahkan pendidikan seperti apa yang pantas diajarkan kepada generasi penerus bangsa sehingga menciptakan homogenitas sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh para penguasa. Bukankah hal ini dapat memicu munculnya ketimpangan sosial? Siapa orang kaya yang akan semakin semakin kaya, dan siapa orang bodoh yang akan semakin bodoh, semuanya seolah ditentukan oleh mereka yang berkuasa.

Kegiatan ekonomi yang merupakan basis, memang dianggap sebagai suatu kegiatan penting dalam kehidupan di masyarakat. Namun, seiring berjalannya waktu tidak menutup kemungkinan jika hal-hal yang berada pada ranah superstruktur pun dapat mempengaruhi basis. Hubungan yang tercipta antara basis dan supestruktur tidak hanya satu arah saja, tetapi juga dua arah meskipun dalam batasan tertentu. Sejalan dengan pernyataan William (1980) yang mengatakan bahwa “Basis mungkin menentukan suprastruktur, tapi suprastruktur juga dapat menentukan basis dalam batasan-batasan tertentu”.

Mengacu pada pemikiran William (1980) di atas, menurut saya basis tidak hanya menjadi variabel yang memengaruhi, tetapi juga dapat dipengaruhi. Misalnya saja, seseorang tidak dapat mengenyam pendidikan tanpa memiliki modal (uang) untuk membiayai sekolahnya, di sisi lain pendidikan juga terkadang menentukan jenis pekerjaan yang dapat dicapai oleh seseorang yang kemudian melalui pekerjaan itulah ia dapat menghasilkan uang, bahkan dalam beberapa kasus, jenjang pendidikan seseorang turut menentukan jumlah pendapatan yang diperoleh, misalnya insentif bagi lulusan sarjana akan berbeda dengan lulusan magister.

Bukankah hal tersebut menbentuk pola melingkar yang akan terus bergulir selama uang dan pendidikan terkait satu sama lain? Hal tersebut juga menunjukkan bahwa adanya hubungan yang erat antara basis dan superstruktur baik secara langsung maupun tidak langsung (William, 1980).

.

Bilbiografi

 

Williams, R. (1980). “Base and Superstructure in Marxist Cultural Theory”. Dalam Durham and Kellner (2005)

Karl Marx and Friedrich Engels (1976), “The Ruling Class and The Ruling Ideas.” Dalam Durham and Kellner (2005)

[1]Kompas online. Puan Maharani: Wajb belajar 12 tahun dimulai Juni 2015. 13 Januari 2015. Diakses dari http://edukasi.kompas.com/read/2015/01/13/01183401/Puan.Maharani.Wajib.Belajar.12.Tahun.Dimulai.Juni.2015. 22 Maret 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s