Posmodernism: Fenomena Cover Lagu sebagai Pastiche

By: SAU

Mungkin Anda pernah mendengar sosok Justin Bieber, Boyce Avenue, Fifth Harmony, dan di Indonesia sendiri ada GAC-Gamaliel, Audy, Cantika? Mereka adalah sederet artis papan atas yang pada awal kemunculannya dikenal melalui lagu cover yang mereka bawakan dan dibagikan melalui akun media pribadi mereka seperti youtube.
Youtube merupakan media sosial yang menyediakan fasilitas bagi para penggunanya untuk mengunggah, mengunduh, dan berbagi video secara gratis. Tak mengherankan jika teknologi fitur pada youtube ini dimanfaatkan oleh banyak orang khususnya musisi pendatang baru untuk mendapatkan popularitas, misalnya dengan meng-cover lagu-lagu yang sudah terkenal sebelumnya.

Cover dalam konteks ini adalah meniru lagu lain secara terang-terangan yang disertai dengan mengubah vokal dan aransemen musik kemudian dibawakan kembali menjadi sebuah karya yang seolah baru, dengan gaya yang berbeda dari versi aslinya. Faktanya, semakin terkenal lagu yang digunakan untuk di-cover maka akan semakin banyak orang yang mencari versi cover nya. Kesempatan untuk diakses dan dikenal seperti inilah yang beberapa tahun terakhir dijadikan sebagai sarana bagi para musisi untuk memperkenalkan dirinya kepada dunia secara cuma-cuma, dengan bermodalkan lagu cover yang cukup potensial untuk dikomodifikasi seperti halnya lagu orisinal. Terlebih karya seperti ini juga terbukti dapat dinikmati dan dikonsumsi secara massal oleh siapa pun yang memiliki akses internet tanpa terbatas ruang dan waktu.

Sebelum hadirnya youtube dan media sejenis yang menyediakan fasilitas serupa seperti Soundcloud, Smule, dan lain-lain, minat orang untuk meng-cover lagu belum segencar seperti sekarang ini. Perkembangan teknologi yang semakin canggih dari sebelumnya, mendukung dan memicu munculnya gagasan-gagasan baru yang mempengaruhi aspek kebudayaan dan kesenian yang ada. Semakin banyak fitur teknologi yang tersedia, semakin membuka ruang bagi masyarakat untuk menuangkan gagasannya dengan cara yang beragam, termasuk dengan meng-cover lagu.
Maraknya cover lagu akhirnya menjelma menjadi wajah baru dalam budaya industri musik yang dianggap sebagai budaya popular yang lebih variatif dan ekspresif, mereka bebas mengeksplorasi lagu yang mereka cover. Dalam beberapa kasus, musisi yang dilahirkan melalui lagu cover ini kadang menjadi lebih terkenal dan lebih disukai masyarakat daripada musisi yang membawakan lagu versi orisinalnya, bahkan penyanyi besar pun terkadang membuat cover lagu dari penyanyi besar lainnya untuk meningkatkan dan mempertahankan eksistensi mereka.

Fenomena cover lagu seperti ini pada akhirnya menimbulkan pertanyaan, apakah para musisi tersebut memang sengaja mengabaikan orisinalitas karya seni mereka? Atau justru ini hanya dianggap sebagai sarana untuk mengekspresikan kreativitas dan merupakan bagian dari inovasi dalam bermusik?
Jameson (1984, dalam Macrobbie, 2005) menyatakan bahwa di dunia ini tidak ada satu pun hal yang baru, yang ada hanya hasil daur ulang, dipindah tangankan, bahkan menjarah nilai historis nya. Jika demikian, fenomena cover lagu ini sesungguhnya tidak menyalahi aturan apa pun bahkan sesuai dengan pernyataan Jameson (1984), bahwa lagu yang di-cover merupakan lagu hasil daur ulang yang aransemennya disesuaikan dengan karakter bermusik pembuat cover, setelah itu lagu yang telah di-cover tersebut seolah berpindah tangan menjadi milik musisi yang meng-cover dengan adanya label “versi” yang melekat pada lagu tersebut, artinya ada perpindahan power dari musisi versi asli ke versi cover.

Cover lagu kini menjadi jalan pintas bagi mereka yang ingin dikenal secara instan tanpa harus memulainya dari “nol”. Sayangnya, kebanyakkan musisi membuat cover sebuah lagu tanpa memperhatikan lagi konteks saat lagu orisinal tersebut dibuat oleh penciptanya, mereka tidak memedulikan nilai historis yang melekat pada lagu-lagu orisinal yang diciptakan.

Menurut Jameson (1991) hilangnya pemaknaan mengenai sejarah yang terjadi terhadap suatu hal berpotensi mengakibatkan terjadinya “kanibalisasi” atau peniruan secara acak terhadap gaya atas sesuatu di masa lalu.. Dalam hal ini lagu cover pada dasarnya adalah sebuah peniruan atas lagu yang telah diciptakan sebelumnya (masa lalu), dalam posmodernisme hal ini dikenal dengan sebutan pastiche .

Jameson (1991) menyatakan bahwa partiche merupakan peniruan atas sesuatu yang sudah ada di masa lalu, menggantikannya dengan sesuatu yang seolah baru, seperti parodi, imitasi atas sesuatu yang unik tanpa memperhatikan konteks sejarah bagaimana hal yang ditiru tersebut bisa tercipta pada masa lalu. Ia mengatakan bahwa pastiche adalah salah satu ciri dari runtuhnya historisitas, adanya sejarah yang terputus dan tidak dimaknai. Hal ini juga dapat dikategorikan sebagai indikasi atas ketidakmampuan para musisi cover untuk merepresentasikan pengalaman mereka ke dalam karya yang diciptakan, sehingga mereka lebih tertarik untuk sekedar memodifikasi lagu yang sudah ada ketimbang menciptakan lagu yang benar-benar baru.

Keberadaan lagu-lagu cover di industri musik dunia sepertinya juga telah meleburkan batas-batas dalam sudut pandang modern (Huyssen,1984,dalam McRobbie,2005), yaitu antara seni budaya tinggi (lagu orisinal) yang dikuasai oleh kalangan tertentu dan seni budaya “rendah” (lagu cover) milik masyarakat berkat adanya teknologi media seperti youtube dan sejenisnya. Sehingga nilai seni yang terkandung di dalamnya tidak lagi se-eksklusif dulu, kini musik dapat dinikmati di mana pun, kapan saja, dan bahkan dapat direproduksi oleh siapa saja. Bukankah hal-hal seperti ini telah merujuk pada gejala-gejala postmodernism?

Bilbiografi:
Huyssen . 1984. Dalam Angela McRobbie Postmodernisme and Popular Culture. Taylor & Francis e-Library. 2005.
Jameson, Fredric. 1991. Postmodernism, or, The Cultural Logic of Late Capitalism, Duke University Press Durham, (online version)
Jameson, Fredric. 1984. Dalam Angela McRobbie Postmodernisme and Popular Culture. Taylor & Francis e-Library. 2005.
Jameson, Fredric. 1984. Christopher Butler. A Very Short Introduction: Postmodernisme nd

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s