Fenomena Vlog: Transformasi Budaya Media

By: SAU

Perkembangan teknologi dewasa ini memberikan dampak yang luar biasa terhadap berbagai lini kehidupan manusia. Bagaimana tidak, kehadiran teknologi dengan beragam fasilitas dan fiturnya menawarkan kemudahan bagi masyarakat dalam mengakses berbagi hal khususnya dalam bidang komunikasi dan media. Kecanggihan fitur-fitur tersebutlah yang kemudian dianggap turut berkontribusi terhadap terjadinya pergeseran dan perubahan budaya media.

Perubahan budaya media yang dimaksud di sini adalah adanya pergeseran peran dan sikap khalayak terhadap media yang semula pasif, lama kelamaan bergeser menjadi aktif karena adanya dorongan dan pengaruh dari teknologi itu sendiri yang menfasilitasi terjadinya pergeseran tersebut. Hal ini kemudian diperkuat oleh pernyataan seorang ahli di bidang media dan komunikasi Nick Couldry dalam berbagai tulisannya yang telah dipublikasikan.

Salah satu tulisan Couldry yang membahas mengenai perubahan paradigma khalayak adalah artikel “The Extended Audience: Scanning Horizon” yang mengeksplorasi tentang perubahan sikap khalayak yang disebabkan oleh teknologi, lokasi spasial dan sosial, serta pengalaman dan tantangan dalam penelitian mengenai khalayak. Menurut Couldry (2004, dalam Gillespie, nd) cara khalayak merespon dan terlibat dengan media dipengaruhi oleh perubahan atas hal-hal tersebut

Couldry (2004, dalam Gillespie, nd) menyatakan bahwa secara historis khalayak bersifat lebih pasif, hal tersebut didasari pada asumsi bahwa khalayak hanya mengonsumsi tanpa terlibat denga media. Namun, seiring perkembangan teknologi yang semakin pesat telah memungkinkan khalayak untuk berpartisipasi secara aktif melalui fitur-fitur yang tersedia sehingga memudahkan mereka untuk mengekspresikan dirinya melalui media.

Youtube merupakan salah satu situs yang digunakan oleh masyarakat dari berbagai kalangan karena fitur video-nya yang lengkap dan dapat disebarluaskan (difusi) secara cuma-cuma. Dalam hal ini youtube juga dapat dijadikan sebagai contoh ideal yang dapat mengambarkan bagaimana perilaku khalayak aktif yang dimaksud oleh Couldry (2004).

Fasilitas yang disediakan oleh youtube memungkinkan khalayaknya untuk tidak hanya  sekedar menonton dan mengunduh video saja, tetapi juga mengunggah video buatan mereka sendiri. Misalnya saja Vlog atau Video Blog yang sedang menjadi tren anak muda sekarang ini, biasanya video tersebut mencangkup kegiatan sehari-hari, hobi, serta hal-hal yang mereka anggap unik dan menarik. Para Vlogger (sebutan bagi pembuatan Vlog) yang pada awalnya hanya menjadi penonton video-video youtube (konsumen) kini beralih menjadi pembuat video (produsen), mereka saling berlomba untuk mendapatkan penonton terbanyak.

Mengacu pada hal di atas, Couldry (2004, dalam Gillespie, nd) berpendapat bahwa dalam konteks ini khalayak telah menjadi lebih sadar tentang bagaimana untuk berpartisipasi dan memanipulasi media massa ditambah dengan adanya pergeseran peran khalayak dari sekedar “konsumen” biasa menjadi “produser” dalam media.

Pembahasan mengenai khalayak tidak berhenti sampai di situ, pada kenyataannya seperti yang sudah dikatakan Couldry (2004, dalam Gillespie, nd) di awal bahwa terdapat  tantangan lainnya selain teknologi dalam melakukan penelitian ini seperti masalah sosial dan spasial. Format teknologi mungkin dapat berubah-ubah sesuai dengan perkembangannya, begitu pun dengan kondisi sosial dan lokasi fisik dari khalayak.

Abercrombie dan Longhurst (1998, dalam Gillespie, nd) mengidentifikasi tiga tahap dalam perkembangan khalayak, yaitu khalayak yang sederhana, khalayak massa, dan khalayak kontemporer yang tersebar (terdifusi) namun tetap terhubung secara permanen dengan suatu media elektronik tertentu dalam setiap aktivitas sehari-harinya.

Fenomena Vlog menunjukkan bahwa masyarakat kita saat ini berada pada tahap perkembangan khalayak kontemporer, di mana mereka tidak dapat terlepas dari media dalam menjalankan kehidupannya. Adanya sikap aktif khalayak terhadap media menunjukkan bahwa khalayak tidak lagi bergantung kepada media, tetapi sebaliknya di sisi lain media juga membutuhkan partisipasi dari khalayak untuk memenuhi kepentingan media.

Dalam konteks ini dapat dikatakan bahwa pergeseran peran khalayak telah menciptakan  hubungan timbal balik antara khalayak dan media, dan bukan lagi hanya hubungan searah dari media kepada khalayak saja. Hubungan keduanya  sangatlah menarik, media dan khalayak pada akhirnya akan selalu saling membutuhkan, saling memberi, saling mengambil keuntungan satu sama lain, dan juga memainkan perannya masing-masing yang dinamis. Mungkinkah ini yang dinamakan dengan transformasi dalam budaya media?

Bilbiografi:

The Extended Audience: Scanning The Horizon, Nick Couldry. in: Gillespie, Marie, (ed.) Media Audiences. ppen university press, maidenhead.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s