Tron Movie, The Grid as a Simulation: More Real Than Real

Tron merupakan sebuah film bergenre cyberpunk buatan Amerika Serikat yang bercerita tentang seorang desainer software bernama Kevin Flyyn yang terjebak di dalam program ciptaannya sendiri dan tak bisa kembali lagi ke dunia nyata. Program ciptaan tersebut dinamakan The Grid, sebuah dunia hasil replika dari dunia nyata yang telah dimodifikasi oleh sang desainer, terdapat sebuah kota lengkap dengan tatanan masyarakat bernuansa kekaisaran di dalamnya. Selang 20 tahun kemudian, anaknya, Sam Flyyn berupaya untuk mencari sang ayah dengan memasuki dunia Grid.

Cerita dengan genre cyberpunk ini sebenarnya telah muncul sejak tahun 80-an, ditandai dengan munculnya novel-novel William Gibson seperti Neuromancer (1984) yang diinspirasi oleh gagasan-gagasan dari Baudrillard mengenai posmodern (Yusuf Lubis, 2014).

Baudrillard dianggap sebagai seorang tokoh postmodern radikal yang melihat adanya perbedaan fundamental antara modern dan posmodern. Ia mengemukakan beberapa konsep seperti simulacra, hyperreality, sign, dan code (Kellner, 2005)

Melalui buku Simulation, Baudrillard (1983) mengemukakan tentang kondisi masyarakat Barat yang menurutnya merupakan representasi dari dunia simulasi. Dunia simulasi sendiri terbentuk atas hubungan yang melibatkan sesuatu yang nyata dengan hal yang dianggap semu. Dalam dunia simulasi keduanya berbaur menjadi kesatuan yang sulit dibedakan secara tegas mana yang real dan mana yang unreal yang kemudian disebut sebagai simulacra. Dalam konteks ini saya rasa film Tron dapat dijadikan sebagai salah satu ilustrasi yang sesuai untuk menjelaskan bagaimana konsep simulasi dan simulacra yang dimaksud oleh Baudrillard (1983).

Film Tron benar-benar memberikan gambaran bagaimana The Grid menjadi sebuah dunia baru bagi para program yang dirancang layaknya kehidupan manusia pada dunia nyata. The Grid adalah pemalsuan atas dunia nyata, di mana segala sesuatunya dibangun sedemikian rupa secara detail agar menyerupai dunia nyata. Bahkan tokoh desainer software tersebut menciptakan replika atas dirinya sendiri, yang juga termasuk kedalam simulacra. Sesuai dengan pernyataan Baudrillar (1983) yang membagi simulacra ke dalam beberapa tatanan seperti simulacra pemalsuan atau tiruan, dan simulacra industri yang dicirikan oleh produksi objek yang sama secara berulang-ulang, dapat dilihat ketika Flyyn melipatgandakan program (manusia tiruan) buatannya dalam jumlah yang besar untuk dijadikan prajurit.

Flyyn menduplikasi dirinya sendiri di dalam Grid Menciptakan manusia tiruan berulang-ulang
Semua yang terjadi dalam dunia Grid merupakan simulasi permainan yang diciptakan oleh Kevin Flyyn sang desainer. Anaknya meyakini bahwa ada dunia lain selain dunia yang ia tinggali, yaitu Bumi. Ketika Sam berhasil masuk ke dalam dunia Grid, ia sendiri sudah tidak dapat membedakan mana manusia yang asli dan mana yang tiruan, mana bangunan yang nyata dan mana yang tidak nyata, mana dunia yang asli atau citraan, semuanya berjalan sesuai aturan permainan di dalam Grid. Batas antara dunia asli (Bumi) dan dunia simulasi (Grid) menjadi semu bahkan perbedaan antara yang nyata dan imajiner dapat terhapus. Hilangnya batasan tersebut yang kemudian disebut Baudrillard (1983) sebagai hiperrealitas, di mana terkadang yang tidak real lebih dianggap real dari pada yang real, dalam konteks ini dunia Grid merupakan contoh dari hiperrealitas.

Di sisi lain, film seperti Tron hadir sebagai fenomena sosial-budaya yang muncul pada tataran karya seni kontemporer dalam industri hiburan. Film dengan genre cyberpunk ini kemudian menjadi popular dan dikonsumsi oleh masyarakat luas. Dengan kata lain, Tron telah dijadikan sebagai objek konsumsi yang mengandung makna tertentu yang diperoleh dari suatu sistem objek (Baudrillard, 1968; 1983).

Konsep-konsep Baudrillard (1983) mengenai hiperrealitas dan simulacra seperti di atas dapat menimbulkan makna yang beragam dan memicu hadirnya paradigma baru bagi perkembangan ilmu pengetahuan di mana manusia tidak lagi hanya berhadapan dengan realitas semata, tetapi juga mengatasi realitas yang berada di luar realitas bahkan ketidakadaan realitas.

Bilbiografi:
Baudrillard, Jean. Simulations. New York: Semiotext, 1983.
Baudrillard, Jean. Selected Writing. California: Standford Univ. Press, 2000.
Durham, Meenakshi & Douglas M. Kellner. Media Cultural Studies: Key-Works. Oxford: Blackwell Publihers Inc, 2002.
Yusuf Lubis, Akhyar. Postmodernisme: Teori dan Metode. Jakarta: Rajawali Press. 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s