Logika Budaya Kapitalisme Lanjut

By: SAU

Jameson (1991) dalam bukunya Postmodernism or Cultural Logic of Late Capitalism membahas tentang situasi produksi budaya pada paruh kedua abad ke-20, yang kemudian memunculkan istilah “modernism tinggi” dan posmodernisne. Ia mengatakan bahwa mode produksi pada era posmodernisme tersebut merupakan budaya dominan yang dibangun atas konsep-konsep seperti deptlessness, the waning of affect, dan pastiche.

Budaya dominan yang di maksud oleh Jameson (1991) dalam hal ini erat kaitannya dengan argument kapitalisme Marxisme (1987) yang melihat hubungan antara budaya dengan kondisi politik dan ekonomi pada suatu masyarakat. Jameson (1991) menyatakan bahwa struktur sosial dan ekonomi suatu masyarakat bersinggungan dengan bentuk budaya yang ada di dalamnya.

Berkaitan dengan hal tersebut, Jameson (1991) kemudian mengacu pada pemikiran Ernest Mandel (1978) yang membagi kapitalisme menjadi tiga periode yang bertepatan dengan tiga tahap perkembangan teknologi yaitu industri manufaktur mesin uap, produksi listrik dan mesin pembakaran, serta produksi perangkat elektronik dan nuklir. Ketiga tahap perkembangan teknologi tersebut sejalan dengan tahap evolusi kapitalisme yaitu tahap ekonomi pasar, tahap monopoli atau imperialisme, dan tahap kapitalis akhir.  Berdasarkan pada tahap-tahap itu, Jameson (1991) mencocokkannya ke dalam tahapan pada proses produksi budaya sehingga menghasilkan tahap realisme, modernism, dan posmodernisme.

Salah satu karakteristik posmodernisme menurut Jameson (1991) yang telah disebutkan sebelumnya adalah depthlessness atau kedangkalan yang berarti manusia menilai suatu hal pada permukaannya saja,  tanpa berusaha memahami mengapa hal tersebut dapat terjadi atau apa makna yang ada di balik hal tersebut. Jameson (1991) menggambarkan kedangkalan melalui dua karya seni lukis yaitu karya Van Gogh “A Pair of Shoes” yang mewakili modernisme tinggi dan Andy Warhol “Diamond Dust Shoes” yang menggambarkan karakter postmodern yaitu relativitas kebenaran.

Jameson (1991) mengutip interpretasi Heidegger mengenai karya Van Gogh sebagai sebuah rekonstruksi dari dunia petani atau rakyat jelata menjadi sesuatu yang lain dengan kemungkinan makna yang berbeda dari gambar yang ada. Sedangkan dalam karya Warhol, Jameson (1991) tidak mengasosiasikan gambar tersebut dengan hal apapun sehingga kita tidak dapat mengetahui makna sebenarnya di balik gambar tersebut, oleh karena itu lukisan Warhol dijadikan sebagai contoh dari kedangkalan posmodernisme.

Selanjutnya Jameson (1991) menjelaskan konsepnya mengenai  “Waning affect” yang menganggap bahwa pada era postmodern, nilai yang terkandung dalam suatu karya sudah berkurang bahkan hilang pengaruhnya. Sesuatu tersebut  tidak lagi mengekspresikan apapun yang mampu membuat  perasaan orang yang melihatnya terbawa suasana. Ia menjelaskan bahwa pudarnya pengaruh tersebut disebabkan oleh sebuah proses di mana subjek telah kehilangan kemampuan aktif untuk menciptakan rasa kontinuitas antara masa lalu dan masa depan dan untuk mengatur keberadaan dunianya menjadi satu pengalaman yang koheren, yang pada akhirnya mengurangi kemampuan dalam memproduksi budaya.

Selain konsep-konsep di atas, Jameson (1991) juga menguraikan tentang konsep pastiche yang menurutnya merupakan salah satu karakteristik utama dalam produksi budaya pada era posmodernisme. Ia menyatakan bahwa partiche merupakan peniruan atas sesuatu yang sudah ada di masa lalu, menggantikannya dengan sesuatu yang seolah-olah baru, imitasi atas sesuatu yang unik tanpa memerhatikan konteks sejarah mengenai bagaimana hal yang dijadikan model tersebut tercipta pada masa lalu yang biasanya dilakukan terhadap karya-karya seni. Ia mengatakan bahwa pastiche adalah salah satu ciri dari runtuhnya historisitas, adanya sejarah yang terputus dan tidak dimaknai lagi.

Menurut Jameson (1991) hilangnya pemaknaan mengenai sejarah yang terjadi terhadap suatu hal berpotensi mengakibatkan terjadinya “kanibalisasi” atau peniruan secara acak terhadap gaya atas sesuatu di masa lalu. Terkait dengan pastiche tersebut, Jameson (1991) mencatat bahwa bidang kesenian memiliki kaitan yang erat dengan sistem ekonomi, seperti arsitektur yang erat kaitannya dengan bisnis pengembangan yang kemudian keduanya menimbulkan aliran arsitektur postmodern, contohnya desain pada tempat-tempat perbelanjaan mewah.

Kesimpulannya, postmodernisme menurut Jameson (1991) ini adalah sebuah situasi historis. Ia berargumen bahwa postmodernisme sejalan dengan pemikiran Marxisme (1978) yang menuntut kita untuk “melakukan hal yang mustahil” yaitu  melihat segala sesuatu dari dua sisi (negatif dan positif) sekaligus, serta berusaha menerima sesuatu tanpa menghakimi, tanpa ada penilaian benar atau salah.

 

Bilbiografi:

Jameson, Fredric. 1991. Postmodernism or Cultural Logic of Late Capitalism. Duke University: Press Durham.

Jameson, Fredric. 1984. Dalam Angela McRobbie Postmodernisme and Popular Culture. Taylor & Francis e-Library. 2005.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s