Menguak Perjalanan Sebuah Hiperrealitas

By: SAU

Travels in Hyperreality merupakan tulisan Umberto Eco (1986) yang dibuat dalam  kurun  waktu dan konteks yang berbeda-beda yang erat kaitannya dengan kajian semiotik. Semiotika adalah studi tentang bahasa tanda dan bagaimana mereka terbentuk melalui bahasa, komunikasi, dan organisasi. Eco (1986) mengajak untuk eksplorasi berbagai bentuk  dari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan sehari-hari, seperti perilaku, politik, lanskap buatan, dan kata-kata. Eco menunjukkan bahwa kebebasan berpikir dapat muncul melalui pemahaman terhadap tanda-tanda yang dipraktikan dalam berbagai teks. Orang-orang yang menerima pesan harus mampu menafsirkan dengan tepat pesan yang disampaikan oleh pengirim, begitu pun pengirim harus memehami makna pesan yag dikirimnya.

Pada bagian pertama tulisannya, Eco (1986) membahas tentang lanskap buatan, dimulai dengan laser display  atau optik holografi di New York yang kemudian bergerak melalui setiap bentuk lanskap khayalan lainnya. Eco mengunjungi museum lilin, museum seni modern, Disneyland, restoran dan hotel. Eco (1986) berpendapat bahwa semua lanskap ini menciptakan realitas fiksi yang lebih rinci dibandingkan dengan kenyataan yang sebenarnya, yang kemudian dikenal dengan sebutan hiperrealitas.

Hiperrealitas adalah segala bentuk replika dari unsur-unsur masa lalu yang dihadirkan dalam konteks masa kini seperti sebuah nostalgia. Sehingga ketika masa lalu tersebut dihadirkan dalam konteks waktu masa kini, maka ia kehilangan kontak dengan realitas, muncul anggapan bahwa masa lalu tampak seakan lebih nyata dari kenyataan yang disalinnya, sehingga menciptakan sebuah kondisi meleburnya salinan dan aslinya (Eco, 1986)

Di sisi lain Jean Baudrillard (1988) mengatakan bahwa hiperrealitas bukanlah hasil duplikasi dari sesuatu yang berbeda, dalam hal ini salinan dan asli dianggap sebagai obyek yang sama. Menurutnya, dunia kita saat ini hanyalah simulasi yang merupakan bagian dari hiperrealitas, di mana keberadaan simulasi ini tersebar dalam berbagai media, termasuk diantaranya adalah film.

Film merupakan produk abad pertengahan yang memiliki popularitas tinggi seperti halnya buku dan game yang menggambarkan bagaimana kehidupan khas abad pertengahan (Eco, 1986). Film dianggap sebagai simulasi dari dunia nyata, namun terkadang bahkan menjadi lebih baik dan nyata dibandingkan dengan realitas yang sebenarnya.

Baudrillard (1988) juga mencoba membaca realitas kebudayaan masyarakat pada masa kini. Ia menyatakan bahwa realitas kebudayaan saat ini menunjukkan adanya karakter khas yang membedakannya dengan realitas kebudayaan modern masyarakat yaitu kebudayaan postmodern yang memiliki ciri-ciri hiperrealitas, simulacra dan simulasi, serta didominasi oleh nilai-tanda dan nilai-simbol (Baudrillard, 1988)

Jalan cerita dari film itu sendiri merupakan metafora atas hipperrealitas, simulasi, dan simulacrapada era postmodern yang dimaksud di atas, misalnya film Avatar yang menceritakan tentang seorang veteran perang yang kehilangan satu kakinya (cacat) akibat perang. Dengan kecanggihan teknologi, ia ditugaskan untuk melakukan simulasi melalui pikiran untuk menjadi mata-mata dengan memasuki dunia makhluk asing dengan menggunakan tubuh baru yang utuh (tanpa cacat) seperti perawakan penduduk di Planet Pandora. Sampai pada akhirnya ia tidak dapat membedakan mana dirinya yang asli dan mana yang simulasi.

Substansi dalam film avatar tersebut sesuai dengan konsep Baudrillard (1988) mengenai hiperrealitas di mana ia mengatakan bahwa perkembangan teknologi yang semakin canggih tidak hanya dapat memperpanjang fungsi organ pada manusia, tetapi lebih dari itu mampu menghasilkan duplikasi dari manusia, mampu membuat fantasi atau fiksi ilmiah menjadi nyata (Baudrillard, 1988)

Simulasi atas sebuah realitas pada dasarnya merupakan sebuah tindakan yang memiliki tujuan tertentu, yaitu membentuk persepsi yang cenderung palsu di mana seolah-olah simulasi tersebut mewakili realitas yang ada. Seperti visualisasi pada film avatar, yang tentu saja pada kenyataannya tidak ada orang yang dapat dapat berpindah dari tubuh satu ke ke tubuh lainnya.

Melihat hal tersebut, dapat dikatakan bahwa film dengan bentuk visual seperti itu hanyalah sebuah hiperrealitas yang dibuat tidak berdasarkan pada fakta sesungguhnya yang alami, artinya substansi film tersebut telah disimulasikan dari obyek yang sesungguhnya belum tentu ada atau tidak ada sama sekali (Baudrillard, 1988)

 

Bilbiografi:

Baudrillard, Jean. Selected writings, ed. mark poster. Stanford; Stanford University Press. 1988.

Eco, Umberto. Travels in Hyperreality. Harcourt and brace. 1986.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s