Perjalanan Sebuah Realitas

By: SAU
Umberto Eco (1986) berpendapat bahwa semua lanskap yang ada di dunia ini menciptakan realitas fiktif dan manusia menganggapnya lebih rinci dibandingkan dengan kenyataan yang sebenarnya. Jameson (1960) menyebut hal tersebut dengan menggunakan istilah hiperrealitas. Hiperealitas adalah sebuah kondisi kepalsuan yang berbaur dengan keaslian; masa lalu berbaur masa kini, fakta tidak dapat dibedakan dengan rekayasa, dan tanda melebur dengan realitas. Di sisi lain, Jean Baudrillard (1983) menggunakan istilah simulasi dan simulacra untuk menjelaskan tentang representasi dan realitas di mana keduanya merujuk pada hiperrealitas Eco (1986).

Menurut Baudrillard (1983), hiperrealitas pada kenyataannya mampu memengaruhi berbagai lini kehidupan masyarakat terutama yang terkait dengan kondisi sosial dan ekonomi. Keadaan hiperrealitas seperti ini menyebabkan masyarakat modern mengonsumsi segala suatu hal yang sebenarnya tidak mereka butuhkan, inilah yang menyebabkan timbulnya budaya konsumerisme yang disinggung oleh Baudrillard (1983).

Budaya konsumerisme menjadikan sebagian besar masyarakat mengonsumsi suatu produk bukan karena mereka benar-benar membutuhkannya, melainkan hanya untuk mengikuti tren yang sedang marak diperbincangkan dalam kehidupan sehari-hari. Produk-produk tersebut menjadi sarana dalam membentuk personalitas, gaya, citra, gaya hidup, serta turut menentukan klasifikasi status sosial dan kelas ekonomi di antara masyarakat itu sendiri yang pada akhirnya itu semua menjadi penyokong atas dunia realitas yang semu (Baudrillard,1983).

Budaya konsumerisme berkembang setelah munculnya globalisasi. Terdapat beberapa pandangan terkait dengan globalisasi dalam konteks ini, pertama globalisasi dipandang sebagai hasil dari imperialism budaya, di mana budaya dominan akan menguasai budaya subordinatnya, misalnya keberadaan program televise asing di suatu negara tertentu (Chadha dan Kavoori, 2000; Morley dan Robins, 1995).

Pada pandangan kedua, globalisasi dipahami sebagai hasil dari kerja proyek modernitas (Giddens, 1991). Menurut Tomlinson (1991), itu adalah ‘penyebaran budaya modernitas itu sendiri. Ini adalah sebuah wacana perubahan sejarah dan pembangunan dari sebuah gerakan global menuju kapitalisme. Argumen ini sudah terlihat dalam gagasan Weber (2000) bahwa kapitalisme adalah perpanjangan alami dari kemajuan nalar dan kebebasan yang terkait dengan pencerahan.

Pandangan ketiga adalah mengenai hibriditas yang menekankan pada komunikasi internasional dalam bidang ekonomi dan politik yang terjalin antar negara (Babha, 1994). Hibriditas memungkinkan adanya pengenalan bentuk-bentuk produksi identitas baru dan bentuk-bentuk budaya. Hibriditas dapat dikatakan sebagai suatu alat untuk memahami perubahan budaya melalui bidang strategis (Barker, 2005).

Bhaba (1994) menambahkan bahwa postkolonialitas bukan hanya menciptakan budaya atau praktik hibridasi, tetapi sekaligus menciptakan bentuk-bentuk resistensi dan negoisasi baru bagi sekelompok orang dalam relasi sosial dan politik mereka. Adanya Fenomena gelombang Korea menjadi salah satu kasus menarik yang dapat menjelaskan mengenai hibridisasi, terutama mengenai hubungan kompleks antara budaya dengan kekuatan globalisasi.

Globalisasi menghapus batasan yang ada dan menembus masyarakat barat. Kegemaran terhadap hal bernuansa Korea ini semakin lama semakin berkembang menjadi budaya popular yang diminati di dunia terlebih dengan hadirnya media baru seperti internet yang memudahkan mereka untuk mengakses budaya Korea tanpa adanya batasan ruang dan waktu. Pernyataan tersebut memperkuat hibdriditas yang terjadi antar Korea dengan negara-negara barat, di mana mereka menggemari keseharian yang bernuansa Korea seperti makanan, siaran tv, dan grup vokal yang disebut dengan Korean Wave atau Hallyu.

Perubahan tersebut tidak terjadi begitu saja, awalnya segala sesuatu yang dimiliki Korea cenderung diabaikan dan dianggap tidak sesuai dengan selera pasar. Namun, setelah adanya globalisasi dan hibridisasi, budaya Korea perlahan mulai menampakkan dirinya sebagai sesuatu yang baru, sesuatu yang segar dan berbeda dengan budaya lainnya sehingga mampu menarik perhatian masyarakat dalam berbagai industri khususnya industri hiburan dan menjelma menjadi budaya popular seperti sekarang ini. Hal tersebut sejalan dengan argument Segers (2000, dalam Shim, 2006) yang menyatakan bahwa “Korea kini telah bertransformasi dari sesuatu yang dikucilkan menjadi sesuatu yang paling diperhitungkan di Asia”.

Mengacu pada fenomena di atas, globalisasi dan hibridisasi nampaknya memegang peranan penting dalam proses transformasi bagi sebuah budaya rendah menjadi budaya popular yang digandrungi masyarakat dunia, budaya tersebut dijadikan sebagai komoditas bernilai tinggi yang pada akhirnya dapat digunakan untuk mendapatkan kekuasaan (hegemoni). Hal tersebut sejalan dengan pemikiran Jameson (1996) bahwa manusia telah memasuki zaman sejarah baru sejak tahun 1970-an yang bergerak dari modernitas menuju postmodernitas, dari kapitalisme menuju kapitalisme akhir.

Bilbiografi:
Barker, Chris. 2005. Cultural Studies, Theory and Practice. London. Sage Publications Ltd
Bhabha, Homi. 1994. The Location of Culture. London: Routledge.
Samuel, Robert. 2009. New Media, Cultural Studies, And Critical Theory After Postmodernism.USA: Palgrave Macmillan.
Perry, Nickolas. 1998. Travelling Theory/Nomadic Theorising In Hyperreality And Global Culture. London: Routledge.
Shim, Doobo. 2006. Hybridity and the rise of korean popular culture in asia’, media culture and society.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s