Wanita Independen

Sebagian besar dari kita sering menyebut kata “independen” dalam kehidupan sehari-hari. Kata tersebut didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk melakukan segala sesuatu sendiri tanpa dikendalikan oleh orang atau hal lain, sebagian yang lain memaknainya sebagai bentuk kemandirian.  Kemandirian yang dimaksud biasanya melingkupi banyak hal; mulai dari pengambilan keputusan, pekerjaan, pendidikan, bahkan finansial dan kehidupan sosial.

Belakangan, kata “independen” mulai dikaitkan dengan isu gender yang kemudian memunculkan istilah  independent woman. Istilah tersebut merujuk pada mereka (wanita) yang dianggap mampu berdiri di atas kaki sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Ada anggapan yang menyatakan bahwa wanita yang tergolong dalam kategori tersebut adalah mereka yang mampu meraih segala hal yang mereka inginkan dengan usahanya sendiri, mampu memenuhi kebutuhan dengan penghasilannya sendiri, sehingga terkadang mereka  merasa bahwa semua pencapaiannya itu didapat tanpa ada intervensi dari siapa pun. Jika benar demikian adanya, dapat dibayangkan betapa tingginya  arogansi yang menyertai para independent woman ini?

Terlepas dari semua pendapat asumtif di atas, saya sendiri tidak membantah bahwa istilah tersebut secara umum memberikan gambaran mengenai sosok  wanita yang mandiri dan tidak menunggu peruntungan dari uluran tangan orang lain, terutama bantuan dari laki-laki. Namun, entah mengapa saya pribadi merasa ada yang janggal dengan istilah tersebut yang kadang terasa mengganggu, seolah-olah seorang wanita yang independen sama sekali tidak membutuhkan orang lain, tidak membutuhkan pendamping hanya karena mereka merasa cukup dengan kemampuannya sendiri.

Memilih untuk menjadi orang yang independen bukanlah suatu hal buruk. Justru sebaliknya,  dengan menjadi independen kita dapat mengetahui seberapa jauh diri ini  dapat melangkah tanpa bertumpu pada orang lain. Yang jadi masalah adalah ketika kadar independensi tersebut tidak lagi proporsional dan berdampak pada kehidupan sosial dan pribadi kita. Misalnya saja, orang yang terlalu independen akan cenderung merasa bahwa ia dapat melakukan segala hal tanpa perlu dukungan dari keluarga, teman, atau pasangan. Rasa percaya diri berubah menjadi keangkuhan, rasa tidak membutuhkan bantuan. Memang benar bahwa pada akhirnya jika dipaksakan, tentu kita akan selalu mampu melakukan segala hal hanya dengan mengandalkan kedua tangan kita. Namun, ada konsekuensi yang sering terlupa di balik semua itu. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang sebaiknya dipertimbangkan dengan seksama oleh semua wanita yang merasa dirinya independen.

Mungkin, kita memiliki otoritas penuh untuk menentukan pilihan dalam segala hal, tapi bukankah akan lebih menenangkan ketika pilihan tersebut mendapat dukungan dari orang-orang terdekat kita? Mungkin, kita selalu mendapatkan pendidikan tertinggi, tapi bukankah akan lebih  bijak jika kita juga mau belajar dari hal-hal sekeliling yang tampaknya sederhana. Mungkin, kita mampu membeli semua benda yang kita inginkan dengan uang yang kita hasilkan dari keringat sendiri, tapi bukankah akan lebih menyenangkan ketika kita mendapatkan apa yang kita impikan sebagai wujud perhatian dari seseorang yang kita cintai? Mungkin, kita bisa menjelajah tiap sudut benua seorang diri, tapi bukankah akan terasa lebih nyaman jika ada seseorang yang menemani di sepanjang perjalanan mengitari bumi?

Kita (wanita) memang bisa melakukannya sendiri, tapi terkadang membuka kesempatan pada orang lain untuk dapat melakukan sesuatu-bahkan hal sesederhana apapun- itu adalah hal yang patut untuk kita beri, terutama bagi pasangan hidup kita. Biarkan ia menjalani harinya yang termotivasi, dibayangi oleh keinginan-keinginan kita yang terkadang di luar imaji. Sisakan ruang baginya untuk turut serta memperbesar kebahagiaan yang sudah kita dapati. Bukan mengajari diri ini untuk bermanja dan bergantung padanya, namun percayalah ada satu sisi di mana pasangan kita ingin melakukan sesuatu untuk kita, merasa berguna, dan merasa dibutuhkan oleh kita. Dengan memberi peluang tersebut, kita pun secara tidak langsung akan banyak belajar; tentang bagaimana menghargai kehadiran orang lain dalam hidup kita, tentang bagaimana untuk menerima secukupnya di saat kita mampu mengambil semuanya, tentang bagaimana mensyukuri betapa sesungguhnya kita tidak pernah sendiri, tidak pernah.

Menjadi independen tidak seharusnya membuat kita keras hati, merasa tinggi dengan apa yang dimiliki, kemudian lupa diri. Sebaliknya, menjadi independen adalah pilihan yang semestinya mempermudah dalam pencarian jati diri dan membuang jauh rasa tinggi hati. Sekali lagi, tidak ada salahnya menjadi wanita yang independen selama kita tahu di mana titik kita berdiri, tahu kapan waktu untuk bersandar tanpa melupakan bagaimana untuk tegap kembali.

By: SAU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s