Pahlawan Masa Kini

Perhelatan akbar olah raga se-Asia baru saja usai, pujian dan segala bentuk apresiasi massa tak hentinya membanjiri lini maya yang selalu dibagi. Pun dengan kritikan yang datang sesekali dengan niatan ingin memperbaiki atau sekedar nyinyir tak terpuji. Terlepas dari itu semua, tak terpungkiri lagi bahwa Indonesia yang dipercaya sebagai tuan rumah mampu  membawa diri dan menunjukkan pada dunia bahwa sang macan asia yang tertidur telah bangkit untuk mengunjukkan taringnya. Selain menjadi ajang sportivitas para atlet di Asia, Asian Games 2018 juga merupakan kesempatan besar bagi Indonesia untuk menampilkan jati diri nusantara melalui kolaborasi epik antara olah pikir, rasa, dan raga anak bangsa. Segala persiapan dilakukan secara detail dengan tingkat presisi yang tinggi. Bersinergi dengan seluruh elemen sumber daya sehingga mampu melahirkan karya gempita yang sukses mencuri perhatian jutaan pasang mata. Tak lupa, animo positif dan partisipasi masyarakat juga menjadi salah satu faktor pendukung utama yang membuat kemeriahan acara empat tahunan ini dapat terselenggara dengan lancar dan tertib.

Jauh melampaui ekpektasi, Indonesia kini berada pada puncak tertinggi pencapaiannya sepanjang sejarah Asian Games. Pada klasemen akhir perolehan medali, negara kita berada pada posisi 4 dan berhasil merebut sebanyak 98 medali, dengan jumlah medali emas yang melambung fantastik dari perolehan di pagelaran sebelumnya, 31 medali emas! Pencapaian tersebut tentu saja merupakan hasil kerja keras dan perjuangan panjang dari seluruh atlet dan pelatih, serta dukungan penuh dari berbagai pihak terutama pemerintah dalam setiap prosesnya, yang akhirnya mampu mengantarkan kontingen Indonesia pada prestasi rekor terbaiknya selama 56 tahun terakhir.

Sebagai rakyat Indonesia yang hanya mampu memeriahkan dan memberi doa, kami ucapkan terima kasih karena telah memberi kesempatan kepada kami untuk turut merasakan apa yang kami lihat dari kejauhan, kami tidak bertanding tapi tetap ikut merinding, kami tidak melawan tapi karenamu kami menambah kawan. Terima kasih atas rasa bangga yang menggelora, atas rasa haru yang menderu. Terima kasih karena telah mengajarkan sportivitas dan integritas pada generasi ini. Menang kalahmu sejatinya adalah penguji, untuk tetap rendah di saat tinggi, dan mampu berdiri lagi di saat henti. Terima kasih karena telah berjuang dan tak pernah menyerah untuk negeri, kami bangga padamu, pahlawan masa kini.

 

 

 

 

#Ceritapernikahan

Belakangan, tanpa sengaja saya membaca beberapa artikel dan film pendek yang entah bagaimana memuat tema yang sama, pernikahan. Banyak cerita yang melatarbelakangi setiap kisah yang disajikan dalam ruang kata atau pun cinema tentang ini. Beberapa menceritakan tentang keinginan orang-orang untuk menikah namun tak kunjung berpunya, sebagian tentang ketidakberanian sepasang kekasih untuk menjalin komitmen melalui pernikahan padahal mereka saling mencintai, ada pula kisah mereka yang membatalkan pernikahan karena didera keraguan sesaat sebelum acara dilangsungkan, lainnya tentang kehidupan setelah menikah; bahagia atau tidak bahagia.

Bagi saya pribadi, menikah adalah sebuah pilihan. Pilihan untuk dijalankan sepenuh hati atau tidak sama sekali. Kita tidak bisa menghakimi pilihan orang lain yang memilih untuk menikah muda, menunda pernikahan, tidak menikah, bahkan yang menikah berkali-kali. Semua itu adalah hak pribadi dari setiap individu yang seharusnya kita beri ruang toleransi. Tidak ada yang salah dari setiap pilihan, karena selama dijalankan dengan penuh tanggung jawab, baik-buruk konsekuensi atas setiap pilihan harusnya sudah siap untuk dihadapi. Memang munculnya pilihan ini akan sancta bergantung dengan bank hal, tergantung dengan sirkumtans yang senang kita hadapi.

Saya sendiri sempat terjebak dalam sirkumtans dengan segala jenis state yang berbeda, perubahan state yang saya alami ini terasa seperti roller coaster, perspektif yang sering berbalik dan berputar sesuai dengan suasana hati dan pikiran. Perubahan tersebut bisa juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, misalnya saja cohort pergaulan, satire sekitar, bahkan genre bacaan. Semakin beranjak dewasa, orang-orang dewasa muda akan mulai menjajaki satu persatu fase life crisis nya, terutama yang terkait dengan pernikahan. Di antara ruang-ruang pikiran itulah akan terselip dua pandangan soal perkara pernikahan; menimbang antara penting dan tak penting, butuh dan tidak butuh, harus dan tidak harus, prioritas atau preferensi semata

Berbicara tentang preferensi, saya mengenal seorang kawan yang memutuskan untuk menikah selepas lulus SMA, pada saat itu sebagian orang sekelilingnya sangat menyayangkan keputusan yang ia dan orang tuanya ambil, termasuk saya. Kenapa? Karena saya sebagai orang luar hanya mampu melihat dari apa yang bisa saya dari luar saja. Di pikiran saya waktu itu, sama sepeti kebanyakan orang yang juga menyayangkan keputusan menikah secepat itu, padahal si A tergolong murid yang pintar seharusnya dia melanjutkan ke perguruan tinggi dulu. Tapi setelah mengobrol lebih lanjut baru diketahui bahwa ada alasan kuat mengapa orang tua si A memilih untuk menikahkan putrinya terlebih dahulu. Ternyata A sudah berencana untuk melanjutkan studi di luar negeri, namun karena A adalah anak perempuan dan orang tuanya merasa khawatir jika harus melepas  putrinya belajar sendirian di negeri orang tanpa ada yang menemani, maka mereka memilihkan salah satu putra kenalannya yang juga tinggal di Negara yang dituju si A untuk dijadikan suaminya. “Agar ada yang menjaga, dan akan lebih baik jika yang menjaga adalah mahramnya sendiri”. Saya semakin menyadari bahwa sungguh kita tidak berhak menghakimi atas apa-apa yang menjadi putusan orang lain.

Cerita lainnya, beberapa kali saya menemukan orang yang masih hidup sendirian di masa tuanya. Beberapa memang tidak menikah karena terlalu menikmati kehidupannya berkarir, beberapa karena pernah mengalami trauma di masa lalu, beberapa lagi karena memang belum dipertemukan dengan jodohnya di dunia. Perlu diingat, meskipun menikah adalah pilihan yang bisa kita usahakan, namun tetap saja ada hal-hal lain yang memang di luar kendali kita, sebagai manusia.

Pandangan terkait pernikahan begitu beragam adanya, persepsi yang terbentuk akan bergantung dari proses interaksi yang didapat dari lingkungan di mana individu tersebut berada. Misalnya bagaimana latar belakang keluarga, lingkungan sosial, kehidupan beragama, bahkan terkadang juga dipengaruhi dengan tren yang sedang berkembang di masyarakat atau pun dunia maya.

Menganggap pernikahan sebagai impian? Ini biasanya berlaku bagi mereka yang merasa telah menemukan belahan jiwa, atau sedang merasakan jatuh cinta yang teramat dalam sampai merasa bahwa untuk bersamanya adalah hal terpenting dan menjadi tujuan hidup. Tidak ada yang salah dengan ini, selama ada kontrol diri dan dilakukan dengan cara yang baik maka mewujudkan pernikahan impian dengan orang terkasih akan menjadi motivasi terbesar dalam melakukan segala hal, menjadi ingin lebih keras bekerja, lebih giat belajar, lebih baik beribadah, dan menjaga diri. Karena terpeleset sedikit saja, orang-orang yang menjadikan pernikahan sebagai tujuan hidupnya, akan menjadi lebih agresif, impulsif, bahkan obsesif. Jika sudah demikian, maka segala cara akan dihalalkan tanpa mempertimbangkan konsekuensi yang mungkin terjadi atas setiap tindakan yang dilakukan.

Menganggap pernikahan adalah hambatan? Pada state ini, biasanya terlintas di pikiran orang-orang yang sedang berada di puncak ambisi untuk mencapai sesuatu yang sama sekali tak terkait dengan percintaan. Misalnya mereka yang ambisius dalam mengejar karir, meraih pendidikan lebih tinggi, atau sekedar ingin memenuhi dahaga petualangan di masa muda. Banyak sekali obsesi yang harus dipuaskan, sehingga pernikahan dianggap sebagai hal yang akan menyita waktu, materi, tenaga, dan pikiran yang seharusnya hanya mereka curahkan pada satu fokus; kesenangan selagi lajang.

Bagaimana saya memandang pernikahan? Bagi saya pernikahan adalah suatu hal yang sakral, komitmen sepanjang hidup dengan diri sendiri, pasangan, dan Tuhan yang turun tangan langsung pada setiap prosesnya. Keputusan sekali seumur hidup yang akan menentukan arah hidup selama sisa usia. Oleh karena itu, salah satu doa yang selalu saya panjatkan dalam beberapa tahun terakhir; agar diberikan suami yang menentramkan jiwa dan raga, entah siapa pun dia.

Pernah ragu untuk menikah? Jelas pernah, bukan sekali dua kali pinangan datang menghampiri, beberapa hubungan sebelum ini selalu mengarah pada perihal ingin memiliki, namun ketika diakhiri dengan pinangan, saya beranjak pergi. Kenapa? Entahlah, ada ruang kosong yang belum terisi, meskipun semua materi tercukupi tapi hati berkata masih nanti, dan terus begitu berulang kali. Begitu banyak cerita, tentang mereka yang datang dan pergi, yang hilang dan ditemukan kembali, hingga jenuh dan akhirnya hati memilih mati.

“Sampai pada suatu masa langkah kaki terhenti, hati berhenti mencari, dan raga ingin terlindungi. Maka Tuhan yang akan menuntunmu untuk mengenali, siapa yang akan mendampingi hingga kau tak lagi menjadi sendiri.”

Percayalah bahwa akan tiba masa seperti itu, masa dimana kita akan bertemu dengan seseorang yang dirasa “tepat”, pun jika logikamu berpaling, maka jiwamu yang akan mengenali belahannya. Dan dengan penuh kesyukuran saya mendapatkan kesempatan untuk melalui sendiri, yang setelah diselami ternyata banyak sekali hal-hal “kebetulan” yang memang dirancang Tuhan untuk mempersatukan kami. Pada akhirnya, saya memutuskan menikah dengan hanya bermodal niatan ingin menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan, dan menanggalkan sugesti negatif dari masa lampau yang menggerayangi tak terkendali. Menjadikannya gerbang untuk memulai pijakan baru, memperbaiki yang pernah rusak, mengobati yang pernah sakit, mengawali yang pernah berakhir, dengan awalan yang baik; pernikahan. Saya percaya, jika sesuatu dimulai dengan hal yang baik, maka proses, dan hasilnya pun akan baik. Dan di sini lah kami, hidup penuh dengan tawa bahagia dimulai saat mata terbuka pertama kali, hingga lelah yang mengahiri, setiap hari.

Pesan saya bagi para wanita pemilih di luar sana; “Jika datang seseorang yang dengan niat tulusnya ingin membersamaimu dalam kebaikan, maka tidak ada alasan bagimu untuk menolaknya”.

 

Love, SAU

Enjoy Your Stage!

Pernah mendengar istilah quarterlife crisis? Akhir-akhir ini hampir setiap orang yang saya temui, secara ajaib tertarik untuk membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan topik ini. Entah karena kebetulan berada dalam cohort yang sama jadi memang kemungkinan besar juga sedang menghadapi hal-hal yang sama. Misalnya kebingungan untuk mencari atau mengubah pekerjaan, keinginan melanjutkan pendidikan, kegalauan dalam mempersiapkan pernikahan, bahkan memilih untuk memiliki anak atau menundanya. Hal-hal seperti itu menjadi fenomena yang mudah ditemui pada masyarakat yang memasuki usia dewasa muda, di mana seorang individu yang sudah tergolong dewasa, peran dan tanggung jawabnya tentu semakin bertambah besar. Mereka adalah individu yang sudah tidak lagi bergantung secara ekonomis, sosiologis maupun psikologis pada orangtuanya (Dariyo, 2003).

Krisis quarterlife secara harfiah tidak tepat terjadi hanya pada saat seseorang memasuki usia di seperempat abad, menurut Dr Oliver Robinson dari University of Greenwich di London, quarterlife crisis bisa terjadi selama periode usia 25 sampai 35 tahun di saat sebagian besar individu memulai masa produktif hidupnya. Fase yang penuh dengan tantangan, tekanan, dan tuntutan ini merupakan masa transisi bagi mereka yang mulai menentukan rancangan hidup, membentuk kemandirian, dan membuat berbagai keputusan vital.

Sebuah hasil penelitian menyatakan bahwa rata-rata krisis dalam quarterlife hanya terjadi selama satu sampai dua tahun, pengalaman tersebut bernilai posisif untuk dijadikan sebagai modal awal untuk menentukan langkah selanjutnya di masa depan. Ketika seseorang mengalami kesalahan atau kegagalan, ia dapat menjadikan pengalaman tersebut sebagai contoh dari pilihan atas jalan yang salah, sehingga ketika dihadapkan dengan pilihan atau persoalan yang serupa di masa mendatang ia akan lebih siap dan lebih bijak dalam bersikap.

Terdapat dua kemungkinan yang muncul pada fase ini, tergantung dari sudut pandang yang dipilih oleh individu itu sendiri. Bagi mereka yang memiliki pandangan positif terhadap suatu krisis, hal semacam ini akan dijadikan sebagai dorongan yang bersifat konstruktif. Segala ketidakpastian yang dihadapi akan dianggap sebagai kesempatan untuk meningkatkan kapasitas diri secara berkelanjutan agar mampu menaklukan tantangan yang sedang dihadapi apa pun resikonya. Sebaliknya, orang yang menanggapinya secara negatif akan cenderung melihat krisis sebagai hambatan dalam mencapai kesuksesan sehingga cenderung bersifat destruktif.

Lantas bagaimana solusi yang tepat agar dapat bertahan dalam menghadapi fase quarterlife yang selama ini digadang-gadang berpotensi besar menyebabkan konflik dan krisis? Hal inilah yang membuat individu pada akhirnya diharapkan mampu merancang strategi khusus untuk mengatasi berbagai krisis yang mungkin muncul (tidak semua orang mengalami krisis), tentu saja strategi tersebut implementasi dan hasilnya juga akan berbeda bagi setiap orang, tergantung kebutuhan dan tujuan hidup masing-masing. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan pada saat menghadapi fase ini, pertama tentukan terlebih dahulu tujuan hidup utama baru kemudian diuraikan ke dalam timeline jangka pendek, menengah, dan panjang. Alasannya, agar kita dapat mengetahui mana yang harus didahulukan dan mana yang bisa dikerjakan kemudian.

Jika Anda seorang fresh graduated atau orang yang sedang mencari pekerjaan, hal yang bisa dilakukan adalah tentukan sejak awal jenis pekerjaan apa yang Anda inginkan, apakah menjadi wirausaha, atau bekerja di instansi-instansi seperti swasta, BUMN, atau pemerintah. Selanjutnya kumpulkan informasi relevan sebanyak mungkin tentang syarat, kualifikasi, dan timeline perekrutan instansi yang dituju, kemudian tuangkan dalam sebuah matriks agar mudah diseleksi dan dibuat skala prioritasnya. Persiapkan syarat administrasi standar seperti Pass photo, CV, TOEFL, SKCK, dan Ijazah/Transkip. Jika Anda punya waktu luang, manfaatkan untuk meningkatkan wawasan, skor TPA, dan bahasa asing. Begitu pun bagi Anda yang memilih berwirausaha, susun perencanaan yang matang terkait konsep usaha, dana investasi, hingga marketingnya, kemudian ukur dan sesuaikan dengan kapasitas diri untuk mengelolanya.

Jika terkait dengan rencana pendidikan, pikirkan terlebih dahulu apakah Anda akan langsung melanjutkan pendidikan tepat setelah program sarjana selesai, mencari pekerjaan dulu baru kuliah, atau kuliah sambil bekerja. Mengapa harus dipikirkan? Karena setiap pilihan yang diambil akan disertai dengan konsekuensinya masing-masing. Misalnya, A memilih untuk langsung melanjutkan pendidikannya ke jenjang magister, jika dana dan waktu tersedia serta ada tekad yang kuat, maka tidak ada salahnya memilih ini. Tapi di sisi lain kesempatan untuk memeroleh pengalaman kerja akan tertunda selama paling tidak dua tahun, kecuali mengambil kerja paruh waktu atau kelas karyawan.

Lain halnya jika waktu yang Anda gunakan untuk mencari pekerjaan bersamaan dengan waktu yang dibutuhkan untuk perkuliahan, selama dapat mengatur waktu untuk menyesuaikan jadwal kuliah dengan proses perekrutan kerja, tidak akan menjadi masalah. Sebagian besar masalah muncul pada pilihan ini ketika ada pengorbanan yang dibutuhkan, misalnya proses perekrutan yang menyita waktu, sehingga ada kemungkinan akan mengganggu jadwal kuliah bahkan dalam beberapa kondisi bisa menuntut Anda untuk bersedia mengambil cuti semester selama proses perekrutan masih berjalan. Tapi kembali lagi pada skala prioritas Anda, jika mencari pekerjaan adalah hal utama pada saat ini, maka cuti perkuliahan adalah alternatif yang dapat dipilih dengan catatan ada komitmen untuk melanjutkannya kembali setelah proses perekrutan selesai.. Pilihan ketiga adalah melanjutkan pendidikan setelah Anda bekerja. Ini bukanlah pilihan yang mudah bagi sebagian orang, karena banyak aspek yang harus dipertimbangkan, terutama yang terkait dengan pendanaan biaya studi yang sudah tentu harus disesuaikan dengan pendapatan. Ketersediaan waktu yang akan terbagi dua antara pekerjaan dan perkuliahan, kemungkinan berbenturan dengan jadwal dinas sangatlah besar, atau beban perkuliahan yang akan menyaingi beban pekerjaan di kantor. Semua itu harus dipikirkan terlebih dahulu solusi alternatifnya sebagai antisipasi  untuk mengatasi setiap resiko yang mungkin terjadi di kemudian hari. Jika Anda sanggup, maka lanjutkan!

Selain dua hal di atas, ada juga orang yang memutuskan untuk merencanakan pernikahan pada usia seperempat abad ini, sebagian orang memilih menikah untuk menunaikan perintah agama, sebagian lain menjadikan pernikahan sebagai tujuan hidup, tapi tak sedikit juga yang menganggap pernikahan sebagai suatu dilema. Mengapa dilema? Pada dasarnya kemampuan menikah adalah suatu anugerah yang patut disyukuri, namun ada beberapa orang yang merasa bahwa untuk mempersiapkan pernikahan banyak hal yang perlu dikorbankan, baik secara materi maupun non materi. Belum lagi bagi mereka yang baru memulai karir, menikah kadangkala dianggap sebagai tembok yang membatasi seseorang untuk bebas mengaktualisasikan diri di dunia kerja karena harus terbagi dengan kewajibannya dalam rumah tangga. Menikah menjadi ketakutan laten yang menghantui orang-orang pada usia ini, posisinya bergeser dari kebutuhan menjadi formalitas pemenuhan tuntutan, entah dari keluarga atau karena melihat kanan-kiri yang sudah menimang momongan. Urusan kesiapan pada akhirnya dijadikan sebagai tameng alasan, pembenaran jitu atas ketidakmampuan mengontrol diri menghadapi sesuatu yang baru, rumah tangga. Padahal, selama kita menjalaninya dengan ikhlas dan bahagia, menikah atau apa pun itu tidak akan menjadi penghalang bagi urusan yang lain. Lagipula, bukankah Tuhan telah menjanjikan satu hal, bahwa salah satu pembuka pintu rezeki adalah dengan cara menikah? Menikah memang membutuhkan keberanian dan komitmen yang kuat untuk menjalaninya, dan kegalauan atas pernikahan bukanlah solusinya.

Perlu diingat, bahwa memang setiap pilihan yang kita ambil pasti disertai dengan konsekuensi dan opportunity cost yang harus kita terima sebagai resikonya. Oleh karena itu sebelum membuat keputusan yang vital, kita harus mempertimbangkannya secara matang dari berbagai aspek berikut dengan konsekuensinya. Percayalah bahwa hampir setiap orang yang baru memulai hidup di ‘dunia nyata’ ini merasakan kebingungan yang sama, dinamika emosi yang fluktuasinya tak terduga, bahkan kemungkinan munculnya gejala distress dan depresi selalu ada. Tapi, yang harus kita yakini adalah akan selalu ada jalan bagi mereka yang berusaha, bagi mereka yang mampu menjalaninya dengan hati yang terbuka. Tak perlu terkungkung pada rasa khawatir berlebih, cukup susun dan jalani tiap rencana satu persatu, perlahan-lahan. Fokus pada kelebihan yang kita miliki, bukan pada kekurangan yang belum dibenahi. Kesiapan mental untuk kemungkinan terburuk memang harus ditempa sejak dini, namun mempersiapkan dan mengusahakan untuk mendapat hasil terbaik adalah tujuan hidup ini. Sekali lagi, nikmati prosesnya, tak perlu iri dengan pencapaian orang lain, yakini bahwa setiap orang memiliki jalannya masing-masing yang sudah tentu berbeda antara satu dengan yang lain. Tugas kita hanyalah menjalani setiap fasenya dengan jiwa yang bahagia, karena ketika kita merasa bahagia maka kebahagiaan juga akan selalu mengiringi kemana pun kita melangkahkan kaki.

 

By: S.A.U

Contoh News Release

Berikut beberapa contoh news release yang pernah saya buat untuk diterbitkan di media cetak nasional ketika mengikuti program internship di Telkomsel:

Telkomsel Dukung The 2nd Internasional Student Conference on Global Citizenship 2014

Bandung, 17 Januari 2014- Mengawali tahun 2014 ini, Telkomsel kembali berpartisipasi dalam mendukung program-program sosial  khususnya dalam bidang pengembangan sumber daya manusia yang peduli akan  lingkungan serta tanggap terhadap penanggulangan bencana alam. Hal ini ditunjukkan dengan tercatatnya Telkomsel sebagai salah satu pihak sponsor dalam acara “The 2nd Internasional Student Conference on Global Citizenship 2014” yang diselenggarakan oleh  Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.

Internasional Student Conference on Global Citizenship 2014 ini merupakan sebuah program yang bertujuan untuk memfasilitasi dan mengakomodasi mahasiswa dari seluruh dunia untuk berinteraksi dan bertukar wawasan serta pengalaman dalam sebuah diskusi yang bermanfaat tentang  penanggulangan bencana alam atau  disaster management, yang tentunya dapat menjadi sarana untuk saling berbagi gagasan, serta meningkatkan kesadaran generasi muda akan pentingnya menjaga lingkungan dan tanggap dalam menanggulangi bencana melalui diskusi interaktif.

Konferensi yang diselenggarakan untuk kedua kalinya  ini dimulai  pada tanggal 17 sampai dengan tanggal 25 Januari 2014. Peserta yang dilibatkan merupakan mahasiswa pilihan yang  berasal dari 29 kampus  bergengsi dari 29 wilayah negara yang berbeda. Pada pelaksanaan rangkaian konferensi kali ini, akan ada pula launching Program Magister Social Science dari Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan selaku pihak penyelenggara acara konferensi. Acara yang mengusung tema “Disaster Management; Move towards Zero Catastrophe” ini akan diselenggarakan di dua kota besar di Indonesia, yaitu di Bandung dan Yogyakarta.

Bergabungnya Telkomsel sebagai sponsor dalam acara ini merupakan bentuk kepedulian dan kontribusi nyata Telkomsel kepada masyarakat dengan cara memberikan dukungan baik moral atau pun material terhadap kegiatan-kegiatan positif seperti ini. Telkomsel berharap melalui  kegiatan seperti inilah akan muncul gagasan-gagasan brilian yang inovatif sehingga generasi-generasi  muda anak bangsa khususnya di Indonesia sendiri, dapat memiliki kesiapan yang matang dalam melakukan penanggulangan bencana alam di masa yang akan datang.

 

Telkomsel Bersama Pemerintah Provinsi jawa Barat Tanggap Bencana Banjir Subang-Indramayu.

Bandung, 21 januari 2014 – Sebagai bentuk kepedulian dan tanggap terhadap bencana banjir yang melanda kabupaten Subang dan Indramayu, Telkomsel bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan donasi kepada para pengungsi di 12 kecamatan yang masih tergenang banjir.

Banjir yang diakibatkan oleh curah hujan yang tinggi dan pendangkalan sungai serta sistem drainase yang buruk turut menjadi penyebab meluapnya air ke permukiman warga. Hingga kini, sedikitnya 3.000 ribu rumah terendam. Di beberapa titik, air mencapai ketinggian 1,5 meter. Berdasarkan informasi sementara yang diperoleh dari lapangan, jumlah daerah yang terendam di dua Kabupaten Subang-Indramayu mencapai kurang lebih  12 kecamatan, meliputi Kecamatan Pamanukan, Ciasem, Pusaka Jaya, Legon Kulon, Pusakanegara, Kandanghaur, Loh Bener, Losarang, Balongan, Patrol, Indramayu, dan Lelea.

Kegiatan ini merupakan salah satu bagian dari program CSR (Corporate Social Responsibility) Telkomsel yang fokus terhadap bidang Disaster Management. TERRA (Telkomsel Emergency Respon Recovery Activity) yang merupakan salah satu Tim organik bentukan Telkomsel dalam menghadapi segala jenis bencana alam  menjadi salah satu voluntir yang memprakarsai kegiatan ini. Melalui kegiatan ini Telkomsel juga aktif melakukan perbaikan kualitas jaringan di wilayah Subang-Indramayu agar memudahkan para korban banjir tetap dapat berkomunikasi dengan lancar.

Executive Vice President  Area II Jabotabek Jabar Venusiana Papasi menjelaskan “Telkomsel mencoba tanggap terhadap segala bentuk bencana dengan menyalurkan dana CSR untuk membantu para korban. Adapun  jenis bantuan yang diberikan kepada warga korban banjir berupa uang tunai senilai Rp.60 juta yang akan dibagikan ke-12 kecamatan yang tersebar di Kabupaten Subang dan Indramayu.”

“Selain itu Telkomsel juga memberikan bantuan dalam bentuk sandang seperti pakaian kering dan selimut, pangan berupa makanan berat dan ringan, susu dan air mineral, serta obat-obatan. Telkomsel juga menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan dan telepon secara gratis, serta pasokan listrik (Genset) di titik-titik posko penampungan” tambahnya.

Disamping itu, Telkomsel juga mendirikan posko-posko bantuan di sekitar wilayah pemukiman yang terendam banjir dan belum memenuhi standar penampungan darurat yang memadai. Dengan diselenggarakannya kegiatan ini, Telkomsel Berharap semoga bantuan yang diberikan dapat meringankan beban para korban banjir yang belum diketahui sampai kapan banjir masih akan menggenangi tempat tinggal mereka.

 

Telkomsel Sosialisai SmauLoop di 5 Kota Besar.

 Bandung, 18 Januari 2014– Setelah launching produk beberapa waktu lalu, Telkomsel menggelar kegiatan Sosialisasi Smauloop di lima Kota Besar secara serentak di Indonesia yaitu Bandung, Yogyakarta, Malang, Suarabaya,dan Medan.

Bentuk kegiatan ini adalah sosialisasi yang bertujuan untuk membangun brand awareness secara langsung kepada target pasar yaitu anak muda mengenai produk baru dari Simpati Loop. Untuk daerah Bandung, sosialisasi didakan di Boeber Café Tropika yang terletak di Jalan Sumatra. Sebanyak 128 orang peserta dengan kisaran usia antara 12 sampai 19 tahun tampak antusias mengikuti kegiatan ini. Peserta adalah siswa-siswi terpilih yang mewakili SMP atau SMAnya masing-masing di daerah Bandung dan sekitarnya.

Smauloop sendiri merupakan paket yang dibuat khusus agar anak muda dapat memiliki akun sesuai dengan namanya. Seluruh fiture yang terdapat dalam paket Smauloop ini, mulai dari nama, quota, masa aktif, bahkan paket untuk berbagi di social media semuanya dapat diatur sesuai dengan kebutuhan dan keinginan penggunanya.

Kegiatan sosialisasi yang berjalan sejak pukul 14.00 sampai dengan pukul 18.00 WIB ini dikemas dengan konsep acara yang menarik sesuai dengan karakter anak muda yang “fun”. Selain pemaparan mengenai product  knowledge dan cara aktivasi paket Smauloop, acara ini juga menghadirkan perform dari band  Rosemarry dan juga Kesenian alat musik tradisional angklung dari Saung udjo, sembari menemani peserta saat menikmati jamuan makan dari Telkomsel. Tak hanya itu, berbagai hadiah menarik turut

dibagikan kepada peserta melalui games kreatif  yang sangat menghibur dan interaktif di sela-sela berlangsungnya acara. Tak kalah menarik, ada pula Smauloopstar, yaitu bintang Smauloop yang memiliki nama akun dengan follower terbanyak yang kemudian akan dipilih tiga orang Smauloopstar terbaik melalui situs loo.co.id. Para pemenang Smauloopstar ini akan memperoleh hadiah berupa tiga buah gadget Samsung Galaxy S4.

Produk Smauloop ini tentunya sangat sesuai bagi anak muda yang selalu ingin bebas dalam berekspresi dan menentukan keinginan. Aktivasi produk ini pun sangat mudah, pengguna hanya diminta menghubungi *999*232# untuk mengecek dan membuat nama paket. Caranya, buat nama paket sesuai dengan nama pengguna yang terdiri atas 8 karakter (harus huruf dan angka). Setelah nama paket bisa digunakan, pengguna dapat langsung mengaktifkan pilihan paket Smauloop dengan melakukan langkah-langkah sesuai petunjuk yang ditampilkan di layar hp, kemudian paket dipilih sesuai dengan jenis yang diinginkan. Smauloop melatih anak muda untuk dapat memilih paket komunikasi yang sesuai dengan karakter mereka masing-masing. Paket SMS, Telepon, Internet, hingga pengaturan-pengaturan lainnya dapat dengan mudah dan bebas diatur oleh para pengguna produk inovatif Smauloop ini. Semoga dengan terselenggaranya program sosialisasi ini dapat mendongkrak jumlah pertumbuhan pelanggan Simpati-Telkomsel di seluruh Indonesia.

 

Telkomsel Lakukan Campus Hiring

Bandung, 24 Februari 2014– Telkomsel kembali menggelar Acara Campus Hiring yang kali ini diadakan di Gedung 2 Lantai 4 Kampus Universitas Padjadjaran Dipatiukur, Bandung. Acara ini merupakan program kerja HRD Telkomsel yang bertujuan untuk mencari sekaligus menyaring sumber daya manusia kompetitif yang nantinya akan bergabung menjadi bagian dari perusahaan. Sebelumnya, acara serupa telah diselenggarakan di beberapa kampus besar di Indonesia seperti UI, UGM, UNAIR , dan masih akan berlanjut ke ITB.

Seleksi ini mengedepankan konsep 6 TOP  dimana para peserta yang dipilih akan diproyeksikan agar menjadi aset perusahaan yang berintegritas serta menjadikan Telkomsel sebagai perusahaan yang memiliki Good Talent di Indonesia. Direktur Keuangan Hery Supriyadi mengatakan, “Untuk mengoptimalkan industri maka perlu memerhatikan infrastruktur, frekuensi, serta sumber daya yang berkualitas baik”. Selain itu beliau juga menambahkan, “Telco industry continue to grow with challenging market and evolving industry landscape, Telkomsel Should drive legacy innovation, traffic management and internet transformation to drive data”, ungkapnya.

Pada kesempatan ini, Telkomsel menghadirkan secara langsung para petinggi perusahaan dari jajaran direksi Selain agar para peserta merasa dekat dengan perusahaan, para direksi memang sengaja didatangkan untuk memberikan motivasi kepada para peserta yang dinilai memiliki best talent agar selalu berupaya menunjukan kualitas dan kemampuan terbaik mereka.

Hery menyampaikan, “Melalui kegiatan Campus Hiring ini,  Telkomsel bermaksud untuk memberikan kesempatan bagi SDM yang memiliki best talent untuk memenuhi kuota rekruitmen 2014 sebagai upaya perusahaan dalam menjaga keberlangsungan industri ini”.

 

 

 

Hiduplah dalam Hidupmu

Pernahkah terbesit dalam benak Anda bahwa apa yang Anda jalani dan perjuangkan selama ini seolah hanya sia-sia belaka?  Pernahkah Anda berujar ingin mengulang waktu agar dapat mengambil langkah yang berbeda dari sebelumnya, hanya karena apa yang Anda dapatkan seringkali tak sesuai dengan apa yang Anda harapkan? Pernahkah Anda merasa terjebak dalam mimpi orang lain namun tak punya kuasa selain mewujudkannya?

Pikiran liar seperti ini seringkali menggandrungi mereka yang berada dalam persimpangan. Persimpangan yang selalu ramai oleh banyak pilihan, persimpangan yang selalu menyisakan pertanyaan tanpa secuil pun jawaban, persimpangan yang tak hentinya menyemai kebingungan bagi mereka yang sedang dalam perjalanan. Ya, sebuah perjalanan panjang untuk mengungkap diri yang sejati, menemukan arah yang tepat untuk dituju selama raga tegap berdiri, dan menentukan pilihan akan sesuatu yang tak ingin disesali nanti.

Perjalanan yang tak akan terhenti meski hati mereka menghendaki, meski  raganya teriris berkali-kali, meski rasa yang terpatri sudah tiada lagi. Perjalanan yang membuat mereka selalu ingin mengakhiri namun lebih tak sanggup untuk mengulang kembali. Perjalanan yang memaksa mereka untuk terus berlari tanpa menoleh ke belakang lagi, sampai saatnya mereka menyadari bahwa tak ada pilihan lain kecuali menjalani.

Hidup ini adalah salah satu dari perjalanan yang Tuhan tawarkan untuk kita maknai. Sebuah anugerah sekaligus ujian yang menuntut kita untuk  selalu bertahan menghadapi gejolak kehidupan yang baranya tak pernah mati. Hanya mereka yang mau berjuang dan tak patah arang yang akhirnya akan menikmati janji Tuhan di kemudian hari.

Sayangnya, lagi-lagi kita sering terjebak dalam hitungan matematis dunia yang menyatakan bahwa semakin besar perjuangan yang kita lakukan maka akan semakin banyak pula keberhasilan yang kita tuai. Pun demikian, nyatanya yang terjadi terkadang jauh dari perkiraan, tak mampu diukur dengan logika perhitungan dan sungguh penuh dengan ketidakpastian.

Kadangkala, saat diri ini merasa telah melakukan yang terbaik, di saat yang bersamaan takdir justru menunjukkan hasil yang berbanding terbalik. Dengan mudahnya amarah menyeruak, kecewa merasuk, putus asa menjelma menjadi palang bagi pintu-pintu kesempatan lain yang masih terbuka. Lalu kita? hanyut tenggelam dalam ketidaksukuran yang mengerikan, melupakan tabir yang rahasianya belum sempat tersingkap di balik “kegagalan”, dan meremehkan pelajaran bahwa selalu ada alasan dari setiap kejadian. Bukankah hal yang demikian hanya menyeret kita semakin jauh ke dalam lembah kenistaan?

Mengapa kita tidak mencoba saja lebih keras untuk membesarkan hati dan sedikit menundukkan kepala dari kepongahan? Mencoba memandang segala sesuatu dengan penuh kesukuran tanpa rasa dengki atas apa yang terjadi. Mencoba menelaah lebih dalam lagi tentang hikmah yang satu persatu menanggalkan wajah misteriusnya. Hikmah yang selalu menunggu untuk kita selami, hikmah yang selalu menjadi penyembuh atas luka yang tanpa sadar kita gores dengan tangan sendiri.  

Waktu memang tidak pernah bisa diulang kembali, namun percayalah bahwa tidak ada satu pun hal yang terjadi dengan kesia-siaan, tidak ada satu pun hal yang digariskan tanpa sebuah tujuan. Maka, hiduplah seolah-olah kita akan mati, hiduplah seolah-olah kita tak akan bertemu esok hari, hiduplah sebaik-baiknya sampai tak perlu ada yang kita sesali nanti. Hiduplah  dalam hidupmu sendiri!

By: SAU

Wanita Independen

Sebagian besar dari kita sering menyebut kata “independen” dalam kehidupan sehari-hari. Kata tersebut didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk melakukan segala sesuatu sendiri tanpa dikendalikan oleh orang atau hal lain, sebagian yang lain memaknainya sebagai bentuk kemandirian.  Kemandirian yang dimaksud biasanya melingkupi banyak hal; mulai dari pengambilan keputusan, pekerjaan, pendidikan, bahkan finansial dan kehidupan sosial.

Belakangan, kata “independen” mulai dikaitkan dengan isu gender yang kemudian memunculkan istilah  independent woman. Istilah tersebut merujuk pada mereka (wanita) yang dianggap mampu berdiri di atas kaki sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Ada anggapan yang menyatakan bahwa wanita yang tergolong dalam kategori tersebut adalah mereka yang mampu meraih segala hal yang mereka inginkan dengan usahanya sendiri, mampu memenuhi kebutuhan dengan penghasilannya sendiri, sehingga terkadang mereka  merasa bahwa semua pencapaiannya itu didapat tanpa ada intervensi dari siapa pun. Jika benar demikian adanya, dapat dibayangkan betapa tingginya  arogansi yang menyertai para independent woman ini?

Terlepas dari semua pendapat asumtif di atas, saya sendiri tidak membantah bahwa istilah tersebut secara umum memberikan gambaran mengenai sosok  wanita yang mandiri dan tidak menunggu peruntungan dari uluran tangan orang lain, terutama bantuan dari laki-laki. Namun, entah mengapa saya pribadi merasa ada yang janggal dengan istilah tersebut yang kadang terasa mengganggu, seolah-olah seorang wanita yang independen sama sekali tidak membutuhkan orang lain, tidak membutuhkan pendamping hanya karena mereka merasa cukup dengan kemampuannya sendiri.

Memilih untuk menjadi orang yang independen bukanlah suatu hal buruk. Justru sebaliknya,  dengan menjadi independen kita dapat mengetahui seberapa jauh diri ini  dapat melangkah tanpa bertumpu pada orang lain. Yang jadi masalah adalah ketika kadar independensi tersebut tidak lagi proporsional dan berdampak pada kehidupan sosial dan pribadi kita. Misalnya saja, orang yang terlalu independen akan cenderung merasa bahwa ia dapat melakukan segala hal tanpa perlu dukungan dari keluarga, teman, atau pasangan. Rasa percaya diri berubah menjadi keangkuhan, rasa tidak membutuhkan bantuan. Memang benar bahwa pada akhirnya jika dipaksakan, tentu kita akan selalu mampu melakukan segala hal hanya dengan mengandalkan kedua tangan kita. Namun, ada konsekuensi yang sering terlupa di balik semua itu. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang sebaiknya dipertimbangkan dengan seksama oleh semua wanita yang merasa dirinya independen.

Mungkin, kita memiliki otoritas penuh untuk menentukan pilihan dalam segala hal, tapi bukankah akan lebih menenangkan ketika pilihan tersebut mendapat dukungan dari orang-orang terdekat kita? Mungkin, kita selalu mendapatkan pendidikan tertinggi, tapi bukankah akan lebih  bijak jika kita juga mau belajar dari hal-hal sekeliling yang tampaknya sederhana. Mungkin, kita mampu membeli semua benda yang kita inginkan dengan uang yang kita hasilkan dari keringat sendiri, tapi bukankah akan lebih menyenangkan ketika kita mendapatkan apa yang kita impikan sebagai wujud perhatian dari seseorang yang kita cintai? Mungkin, kita bisa menjelajah tiap sudut benua seorang diri, tapi bukankah akan terasa lebih nyaman jika ada seseorang yang menemani di sepanjang perjalanan mengitari bumi?

Kita (wanita) memang bisa melakukannya sendiri, tapi terkadang membuka kesempatan pada orang lain untuk dapat melakukan sesuatu-bahkan hal sesederhana apapun- itu adalah hal yang patut untuk kita beri, terutama bagi pasangan hidup kita. Biarkan ia menjalani harinya yang termotivasi, dibayangi oleh keinginan-keinginan kita yang terkadang di luar imaji. Sisakan ruang baginya untuk turut serta memperbesar kebahagiaan yang sudah kita dapati. Bukan mengajari diri ini untuk bermanja dan bergantung padanya, namun percayalah ada satu sisi di mana pasangan kita ingin melakukan sesuatu untuk kita, merasa berguna, dan merasa dibutuhkan oleh kita. Dengan memberi peluang tersebut, kita pun secara tidak langsung akan banyak belajar; tentang bagaimana menghargai kehadiran orang lain dalam hidup kita, tentang bagaimana untuk menerima secukupnya di saat kita mampu mengambil semuanya, tentang bagaimana mensyukuri betapa sesungguhnya kita tidak pernah sendiri, tidak pernah.

Menjadi independen tidak seharusnya membuat kita keras hati, merasa tinggi dengan apa yang dimiliki, kemudian lupa diri. Sebaliknya, menjadi independen adalah pilihan yang semestinya mempermudah dalam pencarian jati diri dan membuang jauh rasa tinggi hati. Sekali lagi, tidak ada salahnya menjadi wanita yang independen selama kita tahu di mana titik kita berdiri, tahu kapan waktu untuk bersandar tanpa melupakan bagaimana untuk tegap kembali.

By: SAU

Menguak Perjalanan Sebuah Hiperrealitas

By: SAU

Travels in Hyperreality merupakan tulisan Umberto Eco (1986) yang dibuat dalam  kurun  waktu dan konteks yang berbeda-beda yang erat kaitannya dengan kajian semiotik. Semiotika adalah studi tentang bahasa tanda dan bagaimana mereka terbentuk melalui bahasa, komunikasi, dan organisasi. Eco (1986) mengajak untuk eksplorasi berbagai bentuk  dari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan sehari-hari, seperti perilaku, politik, lanskap buatan, dan kata-kata. Eco menunjukkan bahwa kebebasan berpikir dapat muncul melalui pemahaman terhadap tanda-tanda yang dipraktikan dalam berbagai teks. Orang-orang yang menerima pesan harus mampu menafsirkan dengan tepat pesan yang disampaikan oleh pengirim, begitu pun pengirim harus memehami makna pesan yag dikirimnya.

Pada bagian pertama tulisannya, Eco (1986) membahas tentang lanskap buatan, dimulai dengan laser display  atau optik holografi di New York yang kemudian bergerak melalui setiap bentuk lanskap khayalan lainnya. Eco mengunjungi museum lilin, museum seni modern, Disneyland, restoran dan hotel. Eco (1986) berpendapat bahwa semua lanskap ini menciptakan realitas fiksi yang lebih rinci dibandingkan dengan kenyataan yang sebenarnya, yang kemudian dikenal dengan sebutan hiperrealitas.

Hiperrealitas adalah segala bentuk replika dari unsur-unsur masa lalu yang dihadirkan dalam konteks masa kini seperti sebuah nostalgia. Sehingga ketika masa lalu tersebut dihadirkan dalam konteks waktu masa kini, maka ia kehilangan kontak dengan realitas, muncul anggapan bahwa masa lalu tampak seakan lebih nyata dari kenyataan yang disalinnya, sehingga menciptakan sebuah kondisi meleburnya salinan dan aslinya (Eco, 1986)

Di sisi lain Jean Baudrillard (1988) mengatakan bahwa hiperrealitas bukanlah hasil duplikasi dari sesuatu yang berbeda, dalam hal ini salinan dan asli dianggap sebagai obyek yang sama. Menurutnya, dunia kita saat ini hanyalah simulasi yang merupakan bagian dari hiperrealitas, di mana keberadaan simulasi ini tersebar dalam berbagai media, termasuk diantaranya adalah film.

Film merupakan produk abad pertengahan yang memiliki popularitas tinggi seperti halnya buku dan game yang menggambarkan bagaimana kehidupan khas abad pertengahan (Eco, 1986). Film dianggap sebagai simulasi dari dunia nyata, namun terkadang bahkan menjadi lebih baik dan nyata dibandingkan dengan realitas yang sebenarnya.

Baudrillard (1988) juga mencoba membaca realitas kebudayaan masyarakat pada masa kini. Ia menyatakan bahwa realitas kebudayaan saat ini menunjukkan adanya karakter khas yang membedakannya dengan realitas kebudayaan modern masyarakat yaitu kebudayaan postmodern yang memiliki ciri-ciri hiperrealitas, simulacra dan simulasi, serta didominasi oleh nilai-tanda dan nilai-simbol (Baudrillard, 1988)

Jalan cerita dari film itu sendiri merupakan metafora atas hipperrealitas, simulasi, dan simulacrapada era postmodern yang dimaksud di atas, misalnya film Avatar yang menceritakan tentang seorang veteran perang yang kehilangan satu kakinya (cacat) akibat perang. Dengan kecanggihan teknologi, ia ditugaskan untuk melakukan simulasi melalui pikiran untuk menjadi mata-mata dengan memasuki dunia makhluk asing dengan menggunakan tubuh baru yang utuh (tanpa cacat) seperti perawakan penduduk di Planet Pandora. Sampai pada akhirnya ia tidak dapat membedakan mana dirinya yang asli dan mana yang simulasi.

Substansi dalam film avatar tersebut sesuai dengan konsep Baudrillard (1988) mengenai hiperrealitas di mana ia mengatakan bahwa perkembangan teknologi yang semakin canggih tidak hanya dapat memperpanjang fungsi organ pada manusia, tetapi lebih dari itu mampu menghasilkan duplikasi dari manusia, mampu membuat fantasi atau fiksi ilmiah menjadi nyata (Baudrillard, 1988)

Simulasi atas sebuah realitas pada dasarnya merupakan sebuah tindakan yang memiliki tujuan tertentu, yaitu membentuk persepsi yang cenderung palsu di mana seolah-olah simulasi tersebut mewakili realitas yang ada. Seperti visualisasi pada film avatar, yang tentu saja pada kenyataannya tidak ada orang yang dapat dapat berpindah dari tubuh satu ke ke tubuh lainnya.

Melihat hal tersebut, dapat dikatakan bahwa film dengan bentuk visual seperti itu hanyalah sebuah hiperrealitas yang dibuat tidak berdasarkan pada fakta sesungguhnya yang alami, artinya substansi film tersebut telah disimulasikan dari obyek yang sesungguhnya belum tentu ada atau tidak ada sama sekali (Baudrillard, 1988)

 

Bilbiografi:

Baudrillard, Jean. Selected writings, ed. mark poster. Stanford; Stanford University Press. 1988.

Eco, Umberto. Travels in Hyperreality. Harcourt and brace. 1986.

Logika Budaya Kapitalisme Lanjut

By: SAU

Jameson (1991) dalam bukunya Postmodernism or Cultural Logic of Late Capitalism membahas tentang situasi produksi budaya pada paruh kedua abad ke-20, yang kemudian memunculkan istilah “modernism tinggi” dan posmodernisne. Ia mengatakan bahwa mode produksi pada era posmodernisme tersebut merupakan budaya dominan yang dibangun atas konsep-konsep seperti deptlessness, the waning of affect, dan pastiche.

Budaya dominan yang di maksud oleh Jameson (1991) dalam hal ini erat kaitannya dengan argument kapitalisme Marxisme (1987) yang melihat hubungan antara budaya dengan kondisi politik dan ekonomi pada suatu masyarakat. Jameson (1991) menyatakan bahwa struktur sosial dan ekonomi suatu masyarakat bersinggungan dengan bentuk budaya yang ada di dalamnya.

Berkaitan dengan hal tersebut, Jameson (1991) kemudian mengacu pada pemikiran Ernest Mandel (1978) yang membagi kapitalisme menjadi tiga periode yang bertepatan dengan tiga tahap perkembangan teknologi yaitu industri manufaktur mesin uap, produksi listrik dan mesin pembakaran, serta produksi perangkat elektronik dan nuklir. Ketiga tahap perkembangan teknologi tersebut sejalan dengan tahap evolusi kapitalisme yaitu tahap ekonomi pasar, tahap monopoli atau imperialisme, dan tahap kapitalis akhir.  Berdasarkan pada tahap-tahap itu, Jameson (1991) mencocokkannya ke dalam tahapan pada proses produksi budaya sehingga menghasilkan tahap realisme, modernism, dan posmodernisme.

Salah satu karakteristik posmodernisme menurut Jameson (1991) yang telah disebutkan sebelumnya adalah depthlessness atau kedangkalan yang berarti manusia menilai suatu hal pada permukaannya saja,  tanpa berusaha memahami mengapa hal tersebut dapat terjadi atau apa makna yang ada di balik hal tersebut. Jameson (1991) menggambarkan kedangkalan melalui dua karya seni lukis yaitu karya Van Gogh “A Pair of Shoes” yang mewakili modernisme tinggi dan Andy Warhol “Diamond Dust Shoes” yang menggambarkan karakter postmodern yaitu relativitas kebenaran.

Jameson (1991) mengutip interpretasi Heidegger mengenai karya Van Gogh sebagai sebuah rekonstruksi dari dunia petani atau rakyat jelata menjadi sesuatu yang lain dengan kemungkinan makna yang berbeda dari gambar yang ada. Sedangkan dalam karya Warhol, Jameson (1991) tidak mengasosiasikan gambar tersebut dengan hal apapun sehingga kita tidak dapat mengetahui makna sebenarnya di balik gambar tersebut, oleh karena itu lukisan Warhol dijadikan sebagai contoh dari kedangkalan posmodernisme.

Selanjutnya Jameson (1991) menjelaskan konsepnya mengenai  “Waning affect” yang menganggap bahwa pada era postmodern, nilai yang terkandung dalam suatu karya sudah berkurang bahkan hilang pengaruhnya. Sesuatu tersebut  tidak lagi mengekspresikan apapun yang mampu membuat  perasaan orang yang melihatnya terbawa suasana. Ia menjelaskan bahwa pudarnya pengaruh tersebut disebabkan oleh sebuah proses di mana subjek telah kehilangan kemampuan aktif untuk menciptakan rasa kontinuitas antara masa lalu dan masa depan dan untuk mengatur keberadaan dunianya menjadi satu pengalaman yang koheren, yang pada akhirnya mengurangi kemampuan dalam memproduksi budaya.

Selain konsep-konsep di atas, Jameson (1991) juga menguraikan tentang konsep pastiche yang menurutnya merupakan salah satu karakteristik utama dalam produksi budaya pada era posmodernisme. Ia menyatakan bahwa partiche merupakan peniruan atas sesuatu yang sudah ada di masa lalu, menggantikannya dengan sesuatu yang seolah-olah baru, imitasi atas sesuatu yang unik tanpa memerhatikan konteks sejarah mengenai bagaimana hal yang dijadikan model tersebut tercipta pada masa lalu yang biasanya dilakukan terhadap karya-karya seni. Ia mengatakan bahwa pastiche adalah salah satu ciri dari runtuhnya historisitas, adanya sejarah yang terputus dan tidak dimaknai lagi.

Menurut Jameson (1991) hilangnya pemaknaan mengenai sejarah yang terjadi terhadap suatu hal berpotensi mengakibatkan terjadinya “kanibalisasi” atau peniruan secara acak terhadap gaya atas sesuatu di masa lalu. Terkait dengan pastiche tersebut, Jameson (1991) mencatat bahwa bidang kesenian memiliki kaitan yang erat dengan sistem ekonomi, seperti arsitektur yang erat kaitannya dengan bisnis pengembangan yang kemudian keduanya menimbulkan aliran arsitektur postmodern, contohnya desain pada tempat-tempat perbelanjaan mewah.

Kesimpulannya, postmodernisme menurut Jameson (1991) ini adalah sebuah situasi historis. Ia berargumen bahwa postmodernisme sejalan dengan pemikiran Marxisme (1978) yang menuntut kita untuk “melakukan hal yang mustahil” yaitu  melihat segala sesuatu dari dua sisi (negatif dan positif) sekaligus, serta berusaha menerima sesuatu tanpa menghakimi, tanpa ada penilaian benar atau salah.

 

Bilbiografi:

Jameson, Fredric. 1991. Postmodernism or Cultural Logic of Late Capitalism. Duke University: Press Durham.

Jameson, Fredric. 1984. Dalam Angela McRobbie Postmodernisme and Popular Culture. Taylor & Francis e-Library. 2005.

Perjalanan Sebuah Realitas

By: SAU
Umberto Eco (1986) berpendapat bahwa semua lanskap yang ada di dunia ini menciptakan realitas fiktif dan manusia menganggapnya lebih rinci dibandingkan dengan kenyataan yang sebenarnya. Jameson (1960) menyebut hal tersebut dengan menggunakan istilah hiperrealitas. Hiperealitas adalah sebuah kondisi kepalsuan yang berbaur dengan keaslian; masa lalu berbaur masa kini, fakta tidak dapat dibedakan dengan rekayasa, dan tanda melebur dengan realitas. Di sisi lain, Jean Baudrillard (1983) menggunakan istilah simulasi dan simulacra untuk menjelaskan tentang representasi dan realitas di mana keduanya merujuk pada hiperrealitas Eco (1986).

Menurut Baudrillard (1983), hiperrealitas pada kenyataannya mampu memengaruhi berbagai lini kehidupan masyarakat terutama yang terkait dengan kondisi sosial dan ekonomi. Keadaan hiperrealitas seperti ini menyebabkan masyarakat modern mengonsumsi segala suatu hal yang sebenarnya tidak mereka butuhkan, inilah yang menyebabkan timbulnya budaya konsumerisme yang disinggung oleh Baudrillard (1983).

Budaya konsumerisme menjadikan sebagian besar masyarakat mengonsumsi suatu produk bukan karena mereka benar-benar membutuhkannya, melainkan hanya untuk mengikuti tren yang sedang marak diperbincangkan dalam kehidupan sehari-hari. Produk-produk tersebut menjadi sarana dalam membentuk personalitas, gaya, citra, gaya hidup, serta turut menentukan klasifikasi status sosial dan kelas ekonomi di antara masyarakat itu sendiri yang pada akhirnya itu semua menjadi penyokong atas dunia realitas yang semu (Baudrillard,1983).

Budaya konsumerisme berkembang setelah munculnya globalisasi. Terdapat beberapa pandangan terkait dengan globalisasi dalam konteks ini, pertama globalisasi dipandang sebagai hasil dari imperialism budaya, di mana budaya dominan akan menguasai budaya subordinatnya, misalnya keberadaan program televise asing di suatu negara tertentu (Chadha dan Kavoori, 2000; Morley dan Robins, 1995).

Pada pandangan kedua, globalisasi dipahami sebagai hasil dari kerja proyek modernitas (Giddens, 1991). Menurut Tomlinson (1991), itu adalah ‘penyebaran budaya modernitas itu sendiri. Ini adalah sebuah wacana perubahan sejarah dan pembangunan dari sebuah gerakan global menuju kapitalisme. Argumen ini sudah terlihat dalam gagasan Weber (2000) bahwa kapitalisme adalah perpanjangan alami dari kemajuan nalar dan kebebasan yang terkait dengan pencerahan.

Pandangan ketiga adalah mengenai hibriditas yang menekankan pada komunikasi internasional dalam bidang ekonomi dan politik yang terjalin antar negara (Babha, 1994). Hibriditas memungkinkan adanya pengenalan bentuk-bentuk produksi identitas baru dan bentuk-bentuk budaya. Hibriditas dapat dikatakan sebagai suatu alat untuk memahami perubahan budaya melalui bidang strategis (Barker, 2005).

Bhaba (1994) menambahkan bahwa postkolonialitas bukan hanya menciptakan budaya atau praktik hibridasi, tetapi sekaligus menciptakan bentuk-bentuk resistensi dan negoisasi baru bagi sekelompok orang dalam relasi sosial dan politik mereka. Adanya Fenomena gelombang Korea menjadi salah satu kasus menarik yang dapat menjelaskan mengenai hibridisasi, terutama mengenai hubungan kompleks antara budaya dengan kekuatan globalisasi.

Globalisasi menghapus batasan yang ada dan menembus masyarakat barat. Kegemaran terhadap hal bernuansa Korea ini semakin lama semakin berkembang menjadi budaya popular yang diminati di dunia terlebih dengan hadirnya media baru seperti internet yang memudahkan mereka untuk mengakses budaya Korea tanpa adanya batasan ruang dan waktu. Pernyataan tersebut memperkuat hibdriditas yang terjadi antar Korea dengan negara-negara barat, di mana mereka menggemari keseharian yang bernuansa Korea seperti makanan, siaran tv, dan grup vokal yang disebut dengan Korean Wave atau Hallyu.

Perubahan tersebut tidak terjadi begitu saja, awalnya segala sesuatu yang dimiliki Korea cenderung diabaikan dan dianggap tidak sesuai dengan selera pasar. Namun, setelah adanya globalisasi dan hibridisasi, budaya Korea perlahan mulai menampakkan dirinya sebagai sesuatu yang baru, sesuatu yang segar dan berbeda dengan budaya lainnya sehingga mampu menarik perhatian masyarakat dalam berbagai industri khususnya industri hiburan dan menjelma menjadi budaya popular seperti sekarang ini. Hal tersebut sejalan dengan argument Segers (2000, dalam Shim, 2006) yang menyatakan bahwa “Korea kini telah bertransformasi dari sesuatu yang dikucilkan menjadi sesuatu yang paling diperhitungkan di Asia”.

Mengacu pada fenomena di atas, globalisasi dan hibridisasi nampaknya memegang peranan penting dalam proses transformasi bagi sebuah budaya rendah menjadi budaya popular yang digandrungi masyarakat dunia, budaya tersebut dijadikan sebagai komoditas bernilai tinggi yang pada akhirnya dapat digunakan untuk mendapatkan kekuasaan (hegemoni). Hal tersebut sejalan dengan pemikiran Jameson (1996) bahwa manusia telah memasuki zaman sejarah baru sejak tahun 1970-an yang bergerak dari modernitas menuju postmodernitas, dari kapitalisme menuju kapitalisme akhir.

Bilbiografi:
Barker, Chris. 2005. Cultural Studies, Theory and Practice. London. Sage Publications Ltd
Bhabha, Homi. 1994. The Location of Culture. London: Routledge.
Samuel, Robert. 2009. New Media, Cultural Studies, And Critical Theory After Postmodernism.USA: Palgrave Macmillan.
Perry, Nickolas. 1998. Travelling Theory/Nomadic Theorising In Hyperreality And Global Culture. London: Routledge.
Shim, Doobo. 2006. Hybridity and the rise of korean popular culture in asia’, media culture and society.